Rabu, 21 November 2018

5 Tema Blog yang Paling Sering Saya Tulis


source: pexels
Tantangan hari kedua ini adalah tentang tema blog yang paling disukai. Sebagai manusia random, saya jelas bingung menentukan tema apa yang paling saya sukai dan tidak. Semua tema rasanya menarik untuk ditulis. Menurut para pakar SEO seharusnya blogger memilih niche tertentu yang hendak difokuskan sebagai tema blognya. Saya pernah mencoba konsisiten menulis tema tertentu, sih. Namun, lama-kelamaan tegoda untuk menulis berbagai tema. Di antara sekian banyak tema, ternyata ada 5 tema blog yang paling sering saya tulis di blog ini.

1. All About Writing and Editing

Berhubung pekerjaan saya adalah penulis dan editor lepas, jadi saya paling sering menulis tema penulisan dan penyuntingan. Selain untuk berbagi, juga sekalian sebagai promo. Beberapa catatan tentang aturan penyuntingan saya tulis di blog dengan tujuan utama sebagai pengingat. Sebab, beberapa aturan penyuntingan yang saya tulis di buku atau kertas, sering tiba-tiba ketlisut. Daripada pusing mencari, lebih enak disimpan di blog sehingga bisa dibuka sewaktu membutuhkan.
Karena ingin mengkhususkan tema tulis menulis dan penyuntingan akhirnya saya membuat blog lain khusus tentang penulisan dan penyuntingan di "Kastil Kata".

2. Cerita tentang Pengalaman Sehari-hari

 

Siapa sih yang enggak butuh curhat? Saya termasuk orang yang tidak betah untuk tidak curhat jika sedang ada masalah atau menemukan pengalaman menarik. Tetapi, terlalu banyak curhat di Facebook, kurang bagus juga, ya kan. Karena itu, mengapa tidak ditulis di blog saja. Rasanya lebih bebas menulis pengalaman hidup sehari-hari di blog daripada media sosial lain. Selain lebih mudah dicari, juga bisa menambah pengunjung blog kita. Syukur-syukur bisa sekalian mendatangkan pundi-pundi dollar.

3. Review Buku

 

 Sebagai penghobi baca, tentu saja mereview buku menjadi semacam "kebutuhan" untuk berbagi dengan sesama pencinta buku. Awalnya saya sering menulis review buku-buku hasil pekerjaan saya sebagai editor. Lama kelamaan mulai tertarik untuk mereview semua buku yang sudah saya baca. Hingga kemudian saya berkenalan dengan para blogger buku dan masuk ke komunitas blogger buku Indonesia. Karena salah satu syaratnya adalah memiliki blog khusus tentang buku saja, sehingga saya membuat blog lain yang khusus menulis tema buku. Blog Aku Buku dan Kopi adalah blog saya yang membahas seluk beluk perbukuan, termasuk cerita saat kalap membeli buku.


4. Cerita Makanan dan Jalan-Jalan

 

Menceritakan tentang kisah jalan-jalan kita juga asyik, kan. Beberapa kali saya menulis tentang perjalanan saya dengan kereta api. Jenis transportasi yang paling saya sukai.
Biasanya acara jalan-jalan tak jauh dari acara makan-makan. Apalagi di kota Solo ini terkenal dengan kulinernya. Mengulas tentang makanan khas Solo dan sekitarnya bisa melarutkan pikiran saking serunya.


5. Tips and Trik 

 

Sebagai ibu, sering menghadapi hal-hal tak terduga meski kadang hanya remeh. Misal tiba-tiba telur pecah di lantai sehingga aroma amis menguar ke mana-mana. Bahkan meski sudah dipel tetap saja masih bau amis. Lain kali, serombongan semut bertamu dan asyik menikmati jatah ayam si kecil Bingung, dong, bagaimana mengatasi masalah itu? Karena itu, penting juga menyimpan tips and trik mengatasi berbagai masalah 'remeh temeh' seperti itu.
Tips and trik semacam cara merepost foto di Instagram, cara mengedit foto, dan semisal juga saya sukai. Sebagaimana saya sering mencari tips dan trik seperti itu di internet, apa salahnya berbagi tips dan trik yang kita ketahui untuk orang lain.

Bagi saya, meski blog ini saya monetisasi, tetapi saya tak mau kehilangan kebebasan dan kebahagiaan saya dalam menulis blog. Jadi, meski mungkin tema blog random seperti punya saya ini, yang katanya susah untuk dirayapi mesin pencari, bagi saya tak masalah, selama saya bisa menikmati proses menulisnya dan asyik-asyik di dalamnya.

Selasa, 20 November 2018

Ini 5 Alasan Saya Menulis Blog



Blog sudah menjadi semacam lifestyle di era sosmed. Banyak alasan orang memiliki blog. Bahkan mereka yang merasa tak bisa menulis pun selalu memiliki alasan untuk ngeblog. Meskipun setelah register, blog hanya berisi satu atau dua postingan. Lalu berhenti hingga lupa password  juga email. Ketika alasan ngeblog 'muncul' lagi, terpaksalah membuat akun blog baru. Weeww.

Kalau begitu, alasan apa yang membuat saya menulis blog? 

 1. Tren


Alasan paling awal mengapa saya ngeblog adalah karena tren. Sebagaimana Facebook dan sosial media lain yang saya punya, niat awal membuat akun memang karena jenis sosial media sedang ramai dibicarakan. Saya tipe orang yang serba ingin tahu dan ingin mencoba. Apalagi di rumah ada jaringan internet yang lumayan murah dan lancar, sehingga mengikuti tren sosial media menjadi mudah.

2. Diary


Alasan kedua adalah sebagai pengganti buku diary yang lebih 'modern'. Menulis cerita sehari-hari adalah hobi saya sejak kecil. Tentu saja catatan harian itu dituang dalam buku-buku diary yang lucu-lucu. Setelah mengenal blog dan membaca beberapa blog orang lain, kepikiran untuk menuangkan catatan harian dalam blog. Blog pertama yang saya miliki seingat saya memakai judul 'tafakkur'. Sayangnya, saya sudah lupa email dan password untuk masuk blog tersebut.

3. Berbagi Inspirasi


Yaah, setelah dipikir-pikir, mengapa tidak diniatkan untuk berbagi cerita pada yang lain? Siapa tahu ada yang terinspirasi, termotivasi, setelah membaca cerita saya? Inilah alasan ketiga saya untuk ngeblog. Setiap orang pasti memiliki kisah kehidupan dalam hal pekerjaan, di rumah, di jalan, masalah keuangan, keluarga, dan lain-lain yang berbeda-beda. Sebagaimana saya juga sering terinspirasi dan termotivasi setelah membaca kisah seseorang, siapa tahu orang lain pun terinspirasi dari tulisan kita?

4. Tempat promo


Alasan keempat ngeblog adalah sebagai tempat promo buku-buku yang sudah saya edit. Waktu itu saya memang bekerja di sebuah penerbitan. Untuk mensupport perusahaan tempat saya bekerja maka saya ikut mempromosikan buku-buku mereka di dalam blog. Termasuk bagaimana proses penyuntingan suatu buku.

5. Penghasilan Tambahan


Setelah beberapa lama memiliki blog, akhirnya tibalah pada suatu masa untuk memberanikan diri mengikuti berbagai lomba di blog. Dari mulai menulis kisah hidup, review buku, review produk, hingga menulis cerita fiksi.
Alhamdulillah saya berhasil memenangkan beberapa lomba blog dengan hadiah yang lumayan, meskipun belum menyabet juara pertama.
Selain lomba blog, saya juga mulai memonetisasi blog saya. Meskipun, belum bisa panen mengingat cara saya mengelola blog pun masih suka-suka, seadanya, dan gratisan.

Demikianlah 5 alasan saya menulis blog. Alasan yang kembali "hidup" setelah blog ini berhibernasi beberapa abad 😅
Semoga dengan mengikuti tantangan dari Blogger Perempuan Networking ini, saya bisa kembali konsisten mengurus blog kesayangan ini.

Kamis, 13 April 2017

Sebab Cinta Harus Diupayakan dengan Melihat Kelebihan Pasangan


Three Red Hearts Hanging With White Flowers
Sebab Cinta Harus Diupayakan. Gambar dari pixabay
Dalam sebuah pernikahan apalagi setelah berjalan beberapa tahun, penting untuk "mau" melihat lagi kelebihan pasangan. Ini adalah salah satu cara dalam mengupayakan cinta. Mengapa? Sebab, ada masa ketika pernikahan dan kehidupan berumah tangga menjadi flat, datar, dan kita terjebak dalam rutinitas yang menjemukan. Apalagi saat anak-anak sudah mulai mandiri. Karena itu, mengupayakan cinta menjadi niscaya agar rumah tangga yang telah kita bangun tidak melesak, goyah, atau malah hancur.
Melihat kelebihan pasangan menjadi penting sebab sering kita bersikap tidak adil ketika emosi. Saat itu, yang tampak dari pasangan kita hanyalah seribu satu kekurangan, hingga tak satu pun kelebihan yang terlintas.

Sepertinya inilah saat yang tepat bagi saya untuk "tidak gengsi" melihat kelebihan suami setelah lebih dari 10 tahun menikah.
Jadi, setelah menatap suami diam-diam (ini fiktif beneran, deh) saya akan menuliskan beberapa kelebihan suami. Semoga upaya ini membuat cinta di antara kami kembali tumbuh sesubur cendawan di musim hujan.

1. Suami yang penyabar tingkat dewa

Betul, sih. Suami saya memang sabarnya sudah terkenal di seantero keluarga dan tetangga. Alhamdulillah, karena sejak awal saya selalu berdoa agar bila Allah memberi jodoh pada saya, dia adalah orang yang sabar. Dengan karakter saya yang seperti sprite dikocok, akan jadi perang baratayudha kalau dapatnya pasangan yang gampang meledak.
Sepanjang pernikahan kami yang hampir 15 tahun, saya hampir belum pernah kena bentak. Alih-alih marah atau jengkel, si dia memilih mengalihkan perhatian dengan ngemil atau sibuk dengan hp atau komputer.
Dengan anak-anak pun demikian. Hanya satu kali suami marah besar pada anak sulung kami. Dan setiap kali ingat, suami merasa sangat menyesal.

2. Suami sering meminta maaf lebih dulu

Ini nih, yang bikin saya nggak bisa marah lama-lama. Bagaimana bisa ngambek berhari-hari, kalau baru beberapa jam saja suami datang mendekat lalu meminta maaf. Yey, padahal saya yang emosi, malah dia yang minta maaf. Tak cuma itu. Biasanya ada bonus pijitan di kaki saya plus segelas teh atau kopi buat diminum berdua. Alalalala ... rencana perang dingin gagal, deh. Kalau sudah begini, saatnya saya mengutarakan baik-baik apa yang jadi masalah dan kami lebih siap mendiskusikan berdua untuk mencari jalan keluar.

3. Tak jengah melakukan pekerjaan domestik

Man cleaning home with broom

Mungkin karena suami bukan orang kantoran alias wiraswasta, jadi memang memiliki waktu yang fleksibel. Ketika awal menikah, justru saya yang risih kalau dia membantu pekerjaan rumah. Ini dipengaruhi oleh kultur keluarga saya (bapak ibu) yang sangat membedakan antara perkerjaan lelaki dan perempuan.
Namun, karena kami sama-sama tak begitu suka dengan asisten rumah tangga apalagi yang tinggal di rumah, sementara saya waktu itu kerja kantoran lalu memiliki anak, mau tidak mau saya harus menerima bantuan suami untuk urusan rumah.
Bertepatan, ketika suami masih bujang ternyata memang terbiasa membantu pekerjaan ibunya di rumah. Mencuci, mengepel, sudah menjadi kebiasaannya.
Lama kelamaan, saya menikmati bantuannya dalam pekerjaan domestik (aiishhh ...). Tapi perkara memasak, melipat baju, setrika, jangan serahkan padanya. Dijamin bikin jengkel-jengkel geli!

4. Humoris 

Inilah yang bikin rumah kami jadi hangat dan meriah. Hal-hal sepele bisa jadi candaan yang membuat rumah dipenuhi tawa. Bahkan lagu melow atau romatis kesukaan saya bakal jadi bahan untuk lelucon. Apalagi drama korea atau sinetron ftv.
Maka jangan heran kalau channel yang kami pilih selain berita adalah sebangsa stand up comedy, Cak Lontong, dan Sule.
Ketika banyak anak-anak takut pada ayahnya, istri seakan berhadapan dengan raja di depan suaminya, maka hubungan di antara kami lebih seperti teman. Anak laki-laki kami tak sungkan menceritakan persoalan pribadi pada sang ayah. Saya pun bisa menjadi diri sendiri dan lebih bisa rileks menghadapi dunia.

5. Di lidahnya hanya ada makanan enak dan enak banget

Maka jangan tanya rasa makanan padanya, sebab hanya ada dua rasa: enak dan enak banget. Karena itulah, saya tak takut mencoba-coba resep baru, sebab suami siap menjadi penampung apapun rasa dan bentuknya.
Mencoba resto baru juga tidak perlu waswas kalau tidak cocok di lidah. Terutama lidah saya yang lumayan pemilih. Suami siap jadi "So Clean".

Terima kasih untuk mbak Anggarani Citra yang telah memilih tema "Melihat Kelebihan Pasangan" untuk pekan ini. Akhirnya, tema ini jadi postingan terakhir di putaran pertama Blogger Muslimah Sisterhood yang diadakan oleh Blogger Muslimah Indonesia.

Selasa, 04 April 2017

5 Pengalaman yang Jadi Kenangan Tak Terlupakan


foto Roller coaster dari sini

Sesungguhnya, memilih kenangan tak terlupakan itu sulit bagi saya. Kenapa? Karena banyak sekali kejadian terutama di masa kecil yang sulit untuk dilupakan. Dengan 4 kakak laki-laki, 3 saudara perempuan, Bapak yang antusias pada hal-hal baru, Ibu yang mendukung sepenuhnya, otomatis membuat hidup saya penuh warna dan menjadi kenangan abadi. Oleh karenanya, saya membatasi pada 5 pengalaman yang jadi kenangan tak terlupakan saja. 5 kenangan ini sengaja saya pilih sebab sepertinya sekarang nggak bakal saya ulangi lagi.  

1. Naik Roller Coaster di Ancol

Waktu itu saya masih usia SMA. Nyali masih kuat-kuatnya. Di sela-sela menghadiri pernikahan kerabat, Bapak mengajak kami ke Ancol. Karena sepertinya bakal mencoba semua permainan, jadi kami membeli tiket terusan. Di antara semua permainan yang saya coba, roller coaster yang paling memicu adrenalin. Sebelum naik bahkan saya memastikan pada penjaga kalau permainan ini aman. Jujur saja saya takut jantung bakal copot.
Jadi saya tanya ke mas petugas, "Ini nggak bikin mati, kan?"
Mas penjaga menjawab dengan geli, "Nggak. Aman, kok."
Oke! Saya berdoa sebelum wahana ini mulai dimainkan. Gilaaa ... semakin lama, semakin cepat dan semakin meliuk dan menukik. Kondisi naik sih saya anteng. Tapi begitu mulai di puncak dan mau turun, huaaa ... jeritan sendiri sampai tak terdengar. Entah karena saking kencengnya atau ramainya jeritan dari penumpang lainnya.
Menegangkan tapi seru. Meski begitu saya nggak bakal mau kalau sekarang disuruh naik lagi. Ingat jantung tua 😁

2. Piknik dengan Truk

Piknik dengan naik truk, beberapa kali kami lakukan waktu saya masih kecil. Saat itu, selain motor, hanya truk yang Bapak punya. Karena pertimbangan ekonomis, Bapak selalu membeli segala hal dengan tujuan utama untuk menunjang usaha keluarga.
Dengan 8 anak ditambah beberapa orang yang telah ikut keluarga kami, truk jadi satu-satunya pilihan untuk mengangkut keluarga besar. Bahkan tetangga yang memiliki truk mengikuti jejak kami.
Duduk di bak belakang memang bakal tak dapat melihat keluar. Kalau berdiri terus juga capek. Karena itu kakak-kakak saya membawa kursi ke dalam truk. Tentu saja tikar tidak ketinggalan plus bantal 😆😆.
Jadi, saat duduk di truk kami serasa sedang duduk di ruang tamu rumah.
Karena dulu jalan raya masih relatif sepi, jadi tak ada masalah dengan polisi. Ngomong-ngomong, enak juga lho sebetulnya naik truk. Kita bisa leluasa bergerak, dan angin masuk dengan bebas tak perlu AC.


3. Silaturahim menerabas hutan

Silaturahim adalah salah satu hobi Bapak. Jadi, kalau ada waktu libur terutama lebaran, jangan harap kami ada di rumah. Bapak memilih keliling dari satu kerabat ke kerabat lain. Dengan posisi ibu di keluarganya sebagai bungsu, memberi alasan bagi kami untuk sowan (berkunjung) ke rumah pakdhe-pakdhe dan budhe.
Salah satu pakdhe  (kakak dari ibu) berprofesi sebagai jagawana. Kebetulan tahun itu, pakdhe ditugaskan di hutan yang tak jauh dari rumah kami. Maksudnya, masih terjangkau jarak sehari. Karena profesinya itu, kami memang merasa belum pernah bertemu, padahal anak-anaknya ada yang tinggal bersama kami.
Jadilah Bapak mengajak kami semua menyambangi pakdhe.
Lokasi rumahnya yang terpencil di pinggiran hutan, membuat kami sering salah jalan. Hingga pada suatu titik, tak ada jalur jalan sama sekali, bahkan jalur setapak untuk jalan kaki pun tak ada. Padahal kami datang mengendarai mobil colt diesel L 300. Syukurlah sopir kami prigel alias gesit. Dengan rasa deg-degan kami harus mencari jalur baru, menghindari pohon sana sini. Belum lagi saat melewati parit, dan yang ada hanya satu balok kayu untuk menyeberang. Di sinilah keempat kakak saya beraksi. Mereka membuat jembatan darurat dengan kayu dan bebatuan. Semua penumpang turun. Dengan aba-aba dari kakak-kakak saya, sopir berhasil melewati jembatan darurat ala kadarnya dengan sukses.
Sampai di rumah pakdhe, kami disambut dengan persiapan acara bakar jagung muda dan singkong.
 

  
4. Bergelantungan di Pintu Bus

Mungkin ini hal biasa untuk sebagian orang, apalagi yang tinggal di daerah agak pelosok. Waktu kuliah saya memang indekos di dekat kampus. Tapi, seminggu sekali saya pulang. Nah, saat kembali ke kampus inilah tantangannya. Kalau pas Bapak ada acara ke Solo, saya bisa sekalian numpang. Kalau tidak, ya, saya harus naik bus antarkota. Bukan bus besar macam Sumber Kencono itu. Supaya bus nya untung, seringnya sopir dan kenek akan mengangkut berapapun penumpang yang menunggu di pinggir-pinggir jalan. Meski yang berdiri sudah berjubelan sampai pintu, bus tetap akan menarik penumpang. Jadi, penumpang yang bergelantungan di pintu jadi hal biasa, terutama di pagi hari. Saya salah satu penumpang yang melakukannya. Memang pilihan sulit, sebab menunggu bus berikutnya pun sama kondisinya. Bisa saja menunggu bus lebih siang, tapi ya bakal nggak ikut kuliah hari itu.
Sekarang, setiap mengingat pengalaman itu jadi ngeri. Apalagi ada beberapa kejadian bus terguling ke sawah. Kenapa dulu berani-beraninya nekat berdiri di pintu bus, ya? 

 5. Memegangi Ayam saat Disembelih

Ampuuun, sadis juga ya pengalaman saya. Jadi, dulu Bapak memiliki peternakan ayam. Ada ayam petelur, ada ayam potong. Biasanya, ayam yang nggak laku dijual kita konsumsi sendiri sebagian. Karena saya anak ke-7 dan waktu itu masih single, jadi yang sering di rumah ya saya dan adik saya. Kakak-kakak saya yang lain sudah dibawa pergi sama pasangannya.
Karena itulah, saat memotong ayam, Bapak biasa menyuruh saya atau adik saya memegangi badan si ayam, sementara Bapak memegangi kepala dan menyembelihnya.
Dulu lihat darah mengucur, kok, ya biasa-biasa saja. Bahkan setelah itu saya bantu ibu mencabuti bulu dan memasaknya. Terakhir menikmati di meja makan bersama.
Sekarang? Hiii ... big NO untuk mengulangi pengalaman itu lagi. Ngeriii ...🙅  🙈 

Itulah 5 pengalaman saya yang jadi kenangan tak terlupakan. Seru-seru sadis! Ahaha. Bagaimana dengan pengalaman kalian?

Karena tema yang diberikan oleh mbak anis khoir di event Blogger Muslimah Sisterhood, yang diadakan oleh Blogger Muslimah Indonesia saya jadi kangen masa-masa masih single, ketika semua anggota keluarga masih lengkap. 😢







Rabu, 22 Maret 2017

5 Masakan Khas yang Mengingatkan pada Ibu dan Rumah



Pekan ini saya mendapat giliran jadi pemenang arisan blogger dalam event Blogger Muslimah Sisterhood yang diadakan oleh komunitas Blogger Muslimah. Sebab tiba-tiba saya kangen ibu, jadi saya mengambil tema masakan khas yang mengingatkan pada ibu dan rumah.

Entah mengapa ada masakan tertentu yang mengingatkan pada ibu dan rumah. Ada sesuatu yang tak bisa hilang atau terlupakan. Bahkan semakin beragam jenis makanan yang sudah kita nikmati, masakan ibu di rumah justru makin bikin kangen. Rasa, tampilan, dan aroma masakan ibu tak bisa tergantikan.
Bagi saya yang sudah berkeluarga, pun sering kangen dengan masakan Ibu. Dulu waktu ibu masih ada, saya tinggal pulang dan rasa kangen akan terobati. Bahkan tak jarang ibu datang ke rumah saya sambil membawa masakan beliau. Kadang saya berusaha membuatnya sendiri tetapi tetap ada beda meski dengan resep yang sama. Suami juga ternyata punya kenangan akan masakan ibunya, yaitu ikan kembung goreng dan sambal tomat.

Di antara sekian banyak masakan, ada 5 masakan khas yang selalu menghubungkan kenangan saya pada ibu dan rumah.

Sabtu, 18 Maret 2017

Rp 3500, Hikmah di Balik Ujian



Betapa menakjubkan cara Allah memberi ujian dan pertolongan sekaligus hikmah di balik setiap ujian. Pas, Rp 3500. Sejumlah itulah yang diberikan Allah ketika kami kebingungan membeli beras dan isi ulang gas. Tidak kurang tidak lebih. Dari uang yang kami dapatkan itulah kami dapat mengambil hikmah besar di balik ujian yang datang.

Ketika itu, saya sudah resign dari pekerjaan setelah usia anak saya 6 bulan. Keputusan yang berat karena pekerjaan suami belum stabil. Namun, tindakan itu harus saya lakukan karena bayi saya lahir premature dengan BB di bawah standar. Sampai usia 6 bulan, perkembangannya masih bergerak lamban. Jadi, kami memutuskan untuk menghandle sendiri anak kami. Penyesalan selalu jatuh di belakang, bukan? Jadi, saya tak mau menyesal jika sesuatu terjadi pada anak saya. Dialah prioritas kami saat itu.
Demi dapur yang tetap bisa mengepul, kami membuka warung kelontong kecil di ruangan depan. Rupanya Allah memang sedang menguji saya. Pemilik rumah tepat di seberang jalan ikut membuka toko kelontong. Lebih besar, lebih lengkap, dan walhasil lebih laris karena koneksinya lebih banyak, sementara kami hanyalah pendatang.

Tertatih-tatih kami meyakini bahwa Allah akan memberi rezeki sesuai kebutuhan. Syukurlah suami selalu mengingatkan agar kami sabar dan yakin bahwa Allah tak akan menguji kita di luar kemampuan. Meski tentu saja sulit bagi saya ketika beras habis, kulkas kosong, sementara tak sepeser pun uang ada di tangan.
Sepertinya Allah memang hendak "menanting" (meminta ketegasan sikap) kami apakah akan mengimani bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki atau ingkar.



Suatu sore, saya benar-benar kebingungan. Bersamaan, beras dan gas habis. Sementara uang yang saya pegang tak cukup untuk membeli keduanya berbarengan. Saya harus memilih antara membeli beras satu kilo (ya, bahkan kami hanya mampu membeli beras satu kilo) atau membeli isi ulang gas? Waktu itu tabung gas yang tersedia adalah tabung gas besar berisi 12 kg. Membeli salah satu tidak menyelesaikan solusi. Kami akan tetap kelaparan. Membeli gas, tapi tak punya beras. Apa yang akan kami makan? Membeli beras tapi tak punya gas, bagaimana kami harus memasak sayuran?

Sampai suami pulang kerja, saya belum membeli apa-apa. Setengah berharap siapa tahu suami masih memiliki uang untuk tambahan. Ternyata dompet suami kosong melompong. Saya terdiam menahan diri agar tidak terbawa emosi. Sementara suami tampak mondar-mandir di rumah, merogoh-rogoh lemari mungkin berharap ada uang terselip di antara baju-baju kami.
Senja sepertinya turun lebih cepat, dan rumah terasa senyap. Sementara dada saya makin kencang berdegup. Kami tak saling bicara karena menahan diri agar tak keluar keluhan atau saling menyalahkan.
Menjelang maghrib, datang seorang pembeli. Satu-satunya pembeli hari ini. Suami yang melayani karena saya mengurus si kecil di dalam rumah.

Selesai melayani pembeli, suami mendekati saya sambil geleng-geleng kepala.
"Ada apa?" tanyaku heran.
"Allah luar biasa. Kamu tahu apa yang dibeli orang tadi?" tanyanya balik.
Aku menggeleng tentu saja.
"Apa yang dia beli harganya pas dengan uang yang kita butuhkan saat ini. Dia membeli test pack. Kita kurang 3500 rupiah untuk beli gas, dan Allah mendatangkan pembeli yang membutuhkan test pack seharga 3500." Suami menunjukkan uang di tangannya.
Saya tercenung. Lama. Allah memang luar biasa tepat. Dia memberi di waktu yang tepat dengan jumlah yang tepat.

Kejadian ini menjadi pegangan kami sepanjang menjalani hari-hari berikutnya. Dan betapa seringnya Allah memberi kami ujian berupa kekurangan dan tiba-tiba saja entah bagaimana caranya, Allah mendatangkan pertolongan-Nya.

Pernah kami membutuhkan uang, tiba-tiba suatu malam ada yang mengirim sms, meminta saya membuat sebuah tulisan pendek tentang perusahaannya. Beliau hanya membutuhkan beberapa kalimat saja. Dan keesokan harinya, beliau datang memberi pekerjaan berbeda sambil menyelipkan amplop berisi uang yang membuat saya kaget karena nominalnya jauh lebih besar dari ekspektasi saya.

Lain waktu, ketika suami ke sana kemari mencari pekerjaan karena di PHK, dan tak juga mendapat kabar baik, tiba-tiba di tengah jalan ketika mengantar saya untuk mengikuti sebuah kajian, ada telepon masuk di ponsel saya. Saya antara tertawa dan menangis setelah menerima telepon. Tak disangka ada sebuah penerbitan yang menawari saya pekerjaan dengan jam kerja sesuai kemampuan saya. AllahuAkbar! Betapa unik cara Allah menolong kami.

Begitulah cara Allah meyakinkan kami, menempa iman kami, agar yakin sepenuh-penuhnya, bahwa pertolongan Allah itu dekat. Allah tak akan menyia-nyiakan hamba-Nya apalagi mendzoliminya.
Bukankah badai yang menerpa, justru dapat mempercepat laju kapal menuju dermaga? Sebuah hikmah besar di balik setiap ujian yang didatangkan. Jadi, mengapa harus gamang memikirkan masa depan?

Innallaha ma'ana. Hasbunallah wani'mal wakiil. Ni'mal maula wa ni'man nasiir.


Kisah ini merupakan bagian dalam event Blogger Muslimah Sisterhood yang diadakan oleh Blogger Muslimah Indonesia.



Selasa, 31 Januari 2017

Cara Mudah Repost atau Kirim Ulang Foto di Instagram

Sekarang akun Instagram semakin banyak pengguna. Social Media yang memanjakan para fotografer dan penikmat foto, atau sekadar menyalurkan hobi memotret  ini kini bahkan semakin dipenuhi oleh para pemilik online shop, penulis, penerbit. Belakangan ini banyak penulis, olshop, penerbit, yang mengadakan giveaway atau bagi-bagi hadiah kepada followernya melalui akun instagram. Biasanya salah satu syaratnya adalah me-repost foto produk mereka di instagram. Ada yang memberi tambahan syarat dengan "mengikutsertakan caption".

Rupanya banyak pengguna Instagram yang masih bingung cara me-repost atau mengirim ulang foto di Instagram. Mungkin ada yang memakai cara manual yaitu dengan screenshot foto yang akan di-repost lalu unggah di Instagram. Ada cara lebih mudah yaitu dengan memakai aplikasi Repost. Ada juga aplikasi lain yang sejenis yaitu Insta Repost, Regrann, dan lain-lain.
Inilah cara mudah repost atau kirim ulang foto di Instagram dengan aplikasi Repost.

Cara Mudah Repost Foto di Instagram

1. Unduh aplikasi Repost melalui PlayStore (gratis)


2. Masuk ke akun Instagram

3. Pilih foto yang akan di-repost


4. Klik tanda titik 3 di sebelah kanan atas foto

5. Pilih "copy share url".




6. Klik ikon repost di kiri atas HP atau masuk ke aplikasi Repost


 7. Pilih tampilan nama fotografer (sumber asli). Di foto itu nama fotografernya "rien.dj". Nama fotografer asli bisa diletakkan di kanan bawah, kiri bawah, kanan atas, atau kiri atas. Tampilan juga bisa dipilih yang dark atau putih
Klik Repost
 8. Klik Open Instagram



Selasa, 17 Januari 2017

Menurutku, Bukan Menurut Ini Itu

 Kemarin saat antri dokter, saya diajak ngobrol seorang dosen seni. Bercelana jeans dengan ujung digulung, rambut panjang dikuncir. Bicaranya jelas dengan irama lambat. Khas dosen yang sedang menjelaskan sesuatu. Dia datang bersama istrinya. Waktu itu,antrian kami beriringan. Saya dapat antrian tepat setelahnya. Seperti biasa obrolan kami dimulai dengan pertanyaan tentang sakit masing-masing. Berlanjut dengan yang lebih berat yaitu tentang mafia obat, tax amnesti, hingga kebijakan pemerintah tentang bpjs. Kali ini waktu menunggu yang biasanya membosankan jadi tak terasa.

Obrolan yang paling berkesan dan jadi selfreminder adalah tentang dunia pendidikan.
"Mbak tahu tidak menteri paling baik di Indonesia?"
Saya menggeleng.

"Fuad Hasan. Mengapa. Karena beliau membuat kurikulum yang membentuk mahasiswa menjadi pencipta karya. Mahasiswa yang kreatif, bukan mahasiswa yang suka mengutip tokoh ini itu. Sebetulnya inilah yang dibutuhkan Indonesia. Orang yang mengatakan 'menurutku' bukan mereka yang mengatakan 'menurut Socrates, Plato, Aristoteles. Bukan mereka yang mengatakan 'menurut ini dan itu'."

Saya tercenung. Ingat bagaimana dulu saya membuat skripsi. Hampir semua isinya berdasarkan teori ini dan itu. Mungkin karena itulah saya tak berani melanjutkan S2 dan saya tak bangga dengan isi skripsi saya. Not at all.

"Dunia pendidikan kita sekarang sangat rendah kualitasnya karena mereka lebih suka meniru, mengutip," lanjut si bapak. Saya mengangguk-angguk. Lalu tercenung kembali mengingat naskah saya yang mentok. Ide saya sedang buntu sebuntu buntunya. Kreativitas saya sedang drop. Tapi, saya jadi bersemangat karena obrolan dengan bapak dosen tersebut. Tiba-tiba pintu ruang praktik terbuka. Satu pasien keluar. Giliran si bapak dosen itu masuk.

"Maaf, saya duluan, ya, Mbak.Maaf lho karena obrolan saya yang ngalor ngidul. Maaf, ya."

Saya sungguh kagum dengan atitude bapak dosen satu ini. Saya masih ingin mengobrol banyak dengan beliau. Akhirnya giliran saya masuk untuk diperiksa. Bapak dosen itu masih di ruang dokter. Memang unik sih pengaturan pemeriksaan di tempat dokter ini. Untuk mengefisienkan waktu, ada dua orang pasien dalam satu ruangan. Hanya ada sekat tapi semi terbuka yang membatasi pasien satu dan pasien lainnya. Maka, saya dan pak dosen lagi-lagi berada dalam satu ruangan. Setelah selesai menangani pak dosen, dokter pindah meja untuk menangani saya.

"Saya pulang duluan ya. Semoga mbak cepat sehat," pak dosen itu menepuk bahu saya saat hendak pulang. Begitu juga dengan istrinya.

Saya pun menyambut tangannya dan mengucapkan harapan yang sama. Ah, semoga kita bisa bertemu lagi di tempat yang tidak sama, ya, Pak Bu.

Hari itu saya mendapat banyak pelajaran dari sebuah tempat praktik dokter. Sepertinya saya harus mulai tanamkan pada anak-anak untuk berani menciptakan karyanya sendiri. Menjadi dirinya. Menjadi orang yang bisa mengatakan "menurutku" bukan "menurut ini itu".

Salam kreatif
Rien Dj

Kamis, 04 Agustus 2016

Hal-Hal yang Perlu untuk Diketahui Saat Naik Kereta Api



Kereta api memang transportasi yang selalu banyak diminati. Apalagi di musim liburan, entah long week end, Lebaran, atau hari-hari besar lainnya. Selain harganya cukup murah untuk kelas ekonomi bersubsidi, kereta apa juga relatif tepat waktu karena tidak terkendala macet. Kalaupun terlambat biasanya satu jam, kecuali saat-saat sangat ramai seperti lebaran kemarin.

Sebelum naik kereta api, hal-hal ini perlu kita ketahui agar naik kereta api jadi lebih mudah, tidak terjadi kesalahan atau malah ditolak petugas untuk naik.

Apa saja hal-hal yang perlu diketahui saat naik kereta api?

1. Pesanlah tiket jauh-jauh hari sebelumnya apalagi menjelang hari libur. Kalau perlu beli tiket PP sekalian.
Saat lebaran, saya memesan tiket 2 bulan sebelumnya, lho.  Karena dengan begitu saya bisa memilih kereta yang harga tiketnya sesuai kantong juga dapat memilih tempat duduk untuk berempat. Biasanya PT KAI membuka tiket pemesanan 3 bulan sebelumnya.

2. Pastikan bahwa nama dan nomor KTP ditulis dengan benar saat mengisi form pemesanan.

3. Bisa membeli tiket via web KAI di sini. Melalui web kita bisa melihat gerbong dan tempat duduk mana saja yang sudah dipesan dan mana yang masih bisa dipesan. Selain itu kita tak perlu antri di loket. Hanya saja akan ada biaya administrasi sebesar kurang lebih 7500 per tiket. Tapi jika kita beli 4 tiket akan mendapat potongan biaya administrasi. Misalnya jika beli 4 biaya admin 30.000 maka akan dipotong menjadi 7.500 saja. 

4. Bawa KTP saat berangkat untuk check in. Ketika hendak masuk peron, petugas akan meminta KTP kita dan akan mencocokkan dengan tiket kita. Jika tak membawa KTP boleh memakai kartu identitas kita yang lain misal SIM.

5. Tiket tidak bisa dialihkan kepada orang lain. Jadi, jika batal pergi, tiket tak bisa kita berikan kepada orang lain begitu saja. Tetapi kita bisa membatalkan pesanan maksimal 1 jam sebelum keberangkatan dan uang akan dikembalikan dengan dipotong 25 %. Uang akan diberikan 1 bulan kemudian :D

6. Anak-anak di atas usia 3 tahun harus memiliki tiket sendiri.

7. Pada kolom Identitas Anak diisi dengan tanggal lahir menggunakan angka. Contoh: 08-06-2016

8. Setiap penumpang memiliki satu kursi termasuk anak-anak. Tidak ada penumpang yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.
Kereta Api Bengawan (kelas ekonomi). Foto dokumen pribadi.
 9. Hanya restorasi yang menyediakan makanan dan minuman selama di dalam kereta. Tidak ada pedagang dari luar yang diperbolehkan menjajakan makanan dan minuman di dalam kereta. Jadi, jika ingin hemat lebih baik membawa makanan dan minuman sendiri. Sekadar info, satu cup teh panas manis dihargai 7.000. Nasi rendang satu porsi seharga 27.000. Pop mie 10.000



10. Dilarang merokok di dalam kereta, baik di bordes maupun di toilet. Akan ada peringatan dari petugas melalui pengeras suara. Jika ketahuan merokok maka akan diturunkan di stasiun terdekat.

11. Fasilitas di kereta cukup baik, bahkan untuk kelas ekonomi tersedia air berlimpah dan AC. Jika AC mati atau malah terlalu dingin, penumpang bisa mengatakan kepada petugas. HP lowbat? Jangan khawatir karena ada 2 stop kontak di tiap bilik kereta. Kebersihan juga sangat dijaga dengan menyediakan dua kantong plastik di gantungan. Pada jam tertentu akan ada petugas yang membawa plastik superbesar untuk menampung seluruh sampah dari penumpang.

12. Penumpang bisa tukar tempat duduk dengan penumpang lain. Petugas yang mengecek tiket di dalam kereta tidak mempermasalahkannya.

13. Jangan khawatir salah turun stasiun karena di setiap stasiun petugas akan mengumumkan melalui pengeras suara di stasiun apa kereta berhenti. Petugas menggunakan dua bahasa: Indonesia dan Inggris.  Yaa, kecuali kalau kita ketiduran dan tidak mendengar pengumuman :D


Kamis, 30 Juni 2016

Kuliner Terbaru di Solo: Resto dan Coffee Ayam Kluntung


Sudah beberapa kali saya melewati resto dan coffee Ayam Kluntung ini. Kebetulan letaknya memang sangat dekat dengan rumah. Bisa ditempuh dengan jalan kaki. Namun, saya masih ragu untuk mencicipi menu resto baru tersebut. Design restonya terlihat menyenangkan dari luar, apalagi kalau malam. Ada lampu-lampu yang berpendar dari dalam. Artistik.
Kemarin, suami mengajak ke Resto dan Coffee Ayam Kluntung karena ada acara kopdar dan bukber dengan komunitas bisnis online-nya. Ya, okelah kalau begitu. Setelah ribet mengantar si Kakak mabit, lalu tiba-tiba kakak saya datang berkunjung, akhirnya kami berangkat. Dan bisa ditebak, teman-teman suami langsung komentar karena suami sebagai ketua datang paling akhir.

DESAIN RESTO DAN COFFEE AYAM KLUNTUNG

Resto Ayam Kluntung didesain dengan gaya rumah desa Jawa tempoe doeloe. Meja dan kursi didominasi oleh kayu. Ada meja makan khas desa yaitu meja panjang dan kursi kayu panjang tanpa sandaran, ala warung hik.
Di sisi timur, didesain seperti teras gaya kuno dengan seperangkat meja kayu bundar dan kursi anyaman rotan. Resto Ayam Kluntung berhasil menciptakan suasana desa yang cukup tenang dan banyak angin, apalagi ditambah dengan kotak-kotak kayu tebal yang diisi jerami di beberapa bagian.

gaya teras Jawa tempoe doeloe (sumber: foto pribadi)
MENGAPA DISEBUT AYAM KLUNTUNG?
 
Kluntung adalah semacam bandul atau lonceng yang biasanya dilingkarkan pada leher sapi. Dahulu tiap pagi dan sore di tengah jalan desa yang sepi akan terdengar suara "kluntung kluntung" tiap kali ada gerobak sapi lewat. Di Resto Ayam Kluntung ini pengunjung akan disuguhi deretan kluntung yang digantung di dua tempat. Ada juga 3 gong yang digantung di dinding dan penerangan lampu petromaks menambah kekentalan ciri khas gaya Jawa.
Kluntung, yang akan berbunyi "kluntung ... kluntung" jika digoyang. sumber: koleksi pribadi


 
Gong, salah satu alat musik (gamelan) Jawa. sumber: koleksi pribadi

Bagi kaum muslim, tak perlu khawatir dengan masalah sholat, karena ada mushola kecil dan tempat wudhu yang cukup tertutup. Meski mungil, tapi mushola dengan lantai keramik motif kuno, meski kemungkinan hasil repro yang sekarang sedang tren, lumayan bersih. Jika datang secara rombongan, tak perlu khawatir karena tepat di depan Resto Ayam Kluntung terdapat Mushola Al-Ikhlas, yang menjadi mushola jamaah perumahan Tiara Ardi.

spot untuk selfie (sumber: foto pribadi)

tempat cuci tangan yang lucu (sumber: foto pribadi)


sumber: foto pribadi

 MENU RESTO DAN COFFEE AYAM KLUNTUNG

Sebagaimana namanya maka menu spesial di resto ini tentu saja ayam kluntung. Penampakannya sama dengan ayam goreng kremes lainnya tetapi berbeda dalam hal bumbu. Ayam kluntung di sini bercita rasa rempah yang lumayan kuat. Menu lain adalah sapo tahu, ca kangkung, ca kembang kol, dan beberapa masakan seafood seperti cumi dan udang.


Selain kopi hitam sebagai minuman spesial, minuman lainnya masih standar. Hanya wedang beras kencur yang memberi ciri minuman khas Jawa. Sebetulnya dengan desain khas desa seperti ini, ketersediaan minuman lain seperti wedang ronde, wedang asle,wedang uwuh, wedang secang, tentu akan lebih menggoda pengunjung.
Ruang Wedangan atau tempat meracik minuman (sumber: koleksi foto pribadi
 Harga setiap menu juga masih standar. Untuk satu ayam kluntung (utuh) dihargai Rp55.000

LETAK RESTO DAN COFFEE AYAM KLUNTUNG

Terletak di tengah perumahan, memang lumayan menyulitkan bagi pendatang yang ingin mencoba resto ala ndeso ini. Berada di pinggiran kota Solo bagian barat (sudah masuk wilayah Kabupaten Sukoharjo), yaitu di jalan Bunga Raya, Purbayan, Baki atau di belakang perumahan Tiara Ardi, Purbayan, Baki. 
Bagi warga sekitar Solo, tempat ini lumayan representatif karena di sebelahnya terdapat kolam renang Kora-Kora. Karena berada di tengah berbagai perumahan, tempat ini cocok untuk menjamu tamu atau saudara yang datang dari luar kota bagi penghuni perumahan di sekitarnya. Termasuk acara kopdar kecil-kecilan, karena tempatnya memang tidak begitu luas.

Rabu, 25 November 2015

Sepatu Bertambal Ban Bekas

Catatan: Alhamdulillah postingan ini meraih juara 3. Salut untuk panitia yang kooperatif dan menepati janji. Sayang saya tak bisa hadir dalam festival antikorupsi di Bandung sekaligus penyerahan hadiah.


Lagi-lagi sepatuku bolong di bagian bawah. Tepat di tumit. Padahal bagian atas masih bagus.

"Aku mau beli sepatu." pintaku pada Bapak.

Seperti biasa Bapak menanyaiku apa alasannya. Itulah Bapak. Permintaan kami harus ada alasan yang tepat. Bapak lalu mengecek sepatuku. Kukira Bapak akan berkata, "Besok kita ke toko sepatu."
Tidak. Bukan itu yang dlakukan Bapak. Bapak mengajakku menyeberang jalan di depan rumah. Membawaku ke sebuah bengkel sepeda yang tepat berhadapan dengan rumah kami.
Aku tak tahu apa yang akan dilakukan Bapak. Aku butuh sepatu, bukan sepeda. Bapak malah meminta ban bekas yang sudah tak terpakai. Bapak memotong ban itu seukuran lubang di sepatuku. Tangannya sibuk menempelkannya dengan lem hingga lubang menganga di sepatuku tertutup.

"Nah, sudah bisa dipakai lagi," Bapak menyodorkan sepatu ke arahku dengan senyum puas.

Aku menerima sepatuku dengan diam. Aku, anak orang paling kaya di desaku (begitu teman-temanku selalu bilang), memakai sepatu bertambal ban bekas?
Baiklah, ini bukang satu-satunya hal yang terjadi.

Suatu hari kami harus makan nasi dicampur thiwul. "Kenapa harus dicampur, Bu?" keluhku saat itu. Bagaimana tidak, jika di tempat penyimpanan padi masih penuh dengan hasil panen kami?
"Ini musim paceklik. Kita tidak tahu sampai kapan ini akan berlalu.  Lagi pula, kita harus belajar makan sederhana, seperti yang dimakan tetangga-tetangga kita."
Aku hanya bisa menelan nasi bersama thiwul tanpa bicara lagi. Ternyata lama kelamaan, nasi bercampur thiwul itu jika digoreng menjadi nasi favoritku.

Begitulah ajaran kesederhanaan yang dilakukan Bapak untuk kami. Karena itu, kehidupan kami sehari-hari tidak pernah berbeda, entah ketika Bapak sedang berjaya, memiliki beberapa mobil dan usaha atau ketika Bapak pensiun dan hanya memelihara ayam sebagai kesibukan.

Ibu pun tak kalah sederhananya. Ibu tak pernah ikut-ikutan gaya hidup tetangga. Saat itu, menghadiri pernikahan atau jagong tanpa memakai perhiasan emas adalah hal yang memalukan. Hampir kebanyakan tetangga kami berlomba-lomba membeli emas untuk dipamerkan saat jagong. Mereka yang tak punya akhirnya memilih jalan lain. Pinjam. Meminjam perhiasan untuk jagong menjadi hal biasa di desa kami.
Ibu? Tidak sama sekali. Ibu memakai apa yang memang dimilikinya. Dan Ibu tak pernah memiliki suweng (anting) sebesar koin atau kalung berliontin sebesar 'tampah' seperti orang kaya pada umumnya.
Ibu tampil seadanya. Dengan barang-barang yang memang menjadi milknya.

Bertahun-tahun kemudian,

"Bu, teman-temanku sudah banyak yang memiliki hape," kata anakku yang masih duduk di sekolah dasar.
"Oya? Buat apa mereka beli hape? Bukankah di sekolah dilarang bawa hape?"
"Buat nge-game di rumah." katanya polos. "Aku juga kepingin."
"Kamu bisa main game di hape Ibu." jawabku. "Ibu, kan, tidak terus-menerus memegang hape. Kita bisa gantian. Lagi pula, masak kamu mau nge-game terus, lalu kapan belajarnya?"
Anakku tersenyum. Dia sudah tahu, kami tak akan pernah membeli barang yang tidak kami butuhkan. Apalagi harganya tidak murah. Bagi kami, uang seratus ribu bukan sedikit jika hanya untuk membeli barang yang tidak kami butuhkan, hanya sekadar mengikuti gaya dan tren.

Di rumah kami tak ada barang mahal. Kalaupun ada, itu memang benar-benar kami butuhkan. Mainan untuk anak-anak hanya sederhana dan harganya murah. Untuk apa membeli mainan mahal, karena tak lama lagi anak-anak tumbuh besar dan tentu saja akan melupakan mainan masa kecilnya.
antikorupsi
sumber foto: koleksi pribadi
 Bagi anak-anak bermain itu yang penting mengasyikkan. Mereka tak akan meributkan harga mahal atau murah. Kadang-kadang justru orang tua lah yang merasa gengsi membelikan mainan murah untuk anaknya. Apalagi jika anak-anak yang lain memiliki mainan serba mahal dan sedang tren.
Padahal, dengan membeli mainan murah seperti peralatan memasak dari gerabah tak kalah asyiknya dengan mainan lain. Selain sederhana, kita juga sekaligus dapat membantu melestarikan produk lokal, membantu perekonomian rakyat kecil.
sumber foto: koleksi pribadi
Warisan sikap sederhana yang diturunkan Bapak pada kami, membuat kami tak gampang terguncang ketika harga-harga barang tertentu melonjak naik. Jika harga cabe mahal, kami bisa makan tanpa cabe. Jika harga daging menguras pendapatan, kami bisa makan tempe dan tahu tanpa keluhan.
Mengingat Bapak dan Ibu -rahimahullah- adalah mengingat tentang kesederhanaan.
Karena itulah, kami tetap mampu bertahan dengan hidup seadanya, dengan tetap mencari uang secara halal, tak merampas hak orang lain.

Sederhana adalah salah satu kunci menuju hidup #GakPakeKorupsi #parentingantikorupsi

Jumat, 19 Desember 2014

Harbonas, Shopaholic, dan Sophie Kinsella

 Harbonas? Saya juga baru tahu apa itu harbonas. Hari Belanja Online Nasional. Oh oh ... ada aja event kayak gini, ya. Harbonas digelar pada tanggal 12 Desember kemarin selama 24 jam. Jadi saat itu hampir semua toko online memberikan diskon gilaakk untuk pembeli. Keliatan banget kalau kita itu konsumtif atau gencarnya para marketing membujuk kita untuk mengeluarkan isi dompet?
Apapun itu yang jelas mereka berhasil menggoda saya. Saya tahu event ini dari grup WA. Awalnya cuwek, sih. Tapi akhirnya tertarik melihat web toko online yang ramai dibicarakan karena discountnya sampai 70 %. *elap ileerr

Waladalah, pas buka web, suami ikutan lihat dan langsung tertarik. Waini, saya seperti didukung untuk belanja. Satu item dengan sukses menarik jari saya untuk mengklik "beli sekarang" dan satu item diklik suami.

Sebenarnya bukan masalah item yang saya klik ini yang ingin saya tulis. Tapi, bagaimana perasaan saya saat melihat barang-barang bagus dengan disc gede. Saya jarang belanja *karena uang pas-pasan* dan tidak impulsif jikapun sedang punya uang dan pergi ke mal, kecuali ke toko buku dan sedang obral #tsah.  Tapi, kali ini saya kalah. Dan pada akhirnya saya bisa memahami benar-benar tingkah Becky Bloomwood, tokoh di novel Shopaholic-nya Sophie Kinsella. Memang seperti magnet. Daya tariknya sangat kuat. Kalau tak bisa mengendalikan diri, bisa saja saya akan jadi Becky berikutnya. Discount besar dalam waktu hanya 24 jam. Sepertinya inilah daya tarik paling kuat hingga saya terburu-buru ikut belanja. Saya merasa ini kesempatan emas, kesempatan langka, belum tentu besok ada lagi. Mumpung! Kata yang sangat mempengaruhi kejiwaan Becky dan saya.

Mungkin ada yang belum kenal dengan Becky. Di seri pertama, diceritakan bahwa Becky wanita lajang dengan gaji pas-pasan. Dia punya "penyakit" gila belanja parah. Setiap kali tertarik pada suatu barang, Becky selalu punya alasan logis *menurut dia* mengapa dia harus membeli barang itu. Karena perilakunya ini Becky terlilit utang dan dikejar debt collector kartu kredit.
Becky benar-benar represantasi dari perempuan kebanyakan meski dalam bentuk yang lebih ekstrem. Dalam seri selanjutnya, saya juga terenyak, ketika Sophie Kinsella menunjukkan bahwa bukan hanya gila belanja yang berbahaya, tapi seperti kakak Becky yang gila pada aneka bebatuan pun sama gilanya. Saya jadi teringat timbunan buku di rak saya. Duh.

Memang saya berhasil menahan diri hingga hanya membeli satu item. Tapi, begitu transaksi selesai, saya termenung lama. Apalagi setelah itu, mereka gencar mengirim pesan via ponsel berisi tawaran belanja yang sama 'menarik'nya.
Ada sedikit rasa kecewa saat melihat tas yang saya incar batal saya beli. Tapi, setelah itu muncul perasaan menang dan lega karena berhasil menahan diri. "Tenang, tahun depan bakal ada harbonas lagi," kata suami sambil tertawa geli. Saya ikut tertawa.
Ternyata butuh kendali diri yang kuat untuk tidak kebablasan.

gambar dari sini
Ada beberapa hal yang menurut saya jadi pengendali atas nafsu belanja saya kali ini:

1. WALIJAH, yaitu suami. Dalam Islam sangat dianjurkan agar kita mempunyai walijah. Secara bebas walijah bisa diartikan tempat menyampaikan permasalahan atau tempat curhat. Walijah tentu orang yang bisa membuat keputusan dengan bijak. Suami adalah salah satu walijah saya. 
Meskipun punya penghasilan sendiri, tapi saya terbiasa berdiskusi dengan suami jika ingin melakukan sesuatu. Termasuk dalam hal membeli barang. Hasilnya, nafsu belanja bisa dikendalikan. Saya bisa memutuskan mana yang benar-benar butuh, mana yang hanya ingin, atau butuh tapi tidak harus sekarang.

2.TIDAK EGOIS
Punya penghasilan sendiri berarti punya kebebasan membelanjakan uang sendiri pula. Tapi, saat hendak membeli ini itu, saya mikir tentang suami dan anak-anak. Meskipun suami yang mendorong saya untuk menyimpan penghasilan saya sendiri, tapi tak tega kalau saya senang-senang sendiri. Jadi mikir, bukankah sebaiknya uang saya simpan untuk jaga-jaga jika ada kebutuhan tak  terduga atau darurat? Entah suami sedang butuh dana segar atau anak-anak butuh sesuatu yang mendadak. Meksipun mencukupi kebutuhan keluarga adalah tanggung jawab suami, tapi kalau istri bisa membantu bukankah itu pahala? Insya Allah.

3. BATASI DANA TUNAI
Secara psikologis, saat melihat jumlah uang di dompet banyak, keinginan untuk belanja jadi naik. Ketika melihat jumlah saldo di ATM banyak, pun demikian. Untuk mengantisipasi hal itu, saya bikin strategi penyimpanan. Memang konvensional, karena saya buta masalah investasi dan lain-lain. Lagi pula, uang saya juga seberapa, sih? *haisyah sok mikir investasi
Saya membuka tabungan berjangka. Jadi, setiap bulan bank mengambil uang saya dan ditahan hingga waktu yang ditentukan, sesuai platform awal. Biasanya saya pilih 3 tahun. Jadi, selama 3 tahun itu, uang yang diambil oleh Bank tidak dapat saya ambil.
Dengan cara ini, selain saya bisa menabung, saya juga hanya mempunyai dana terbatas yang bisa diambil. Yaiyalah, kan penghasilan saya juga tak seberapa :) *noted

Sepertinya tiga hal itu yang kemarin berhasil menahan tangan saya mengklik beberapa item di toko online. Bagaimana dengan pembaca? 

Rabu, 09 Juli 2014

Melepas Anak ke Pondok Tahfidz



hafidz yang berwawasan luas *wish*
Sebenarnya, sih, keinginan untuk menyekolahkan anak ke ponpes (pondok pesantren) sudah jadi mindset kami. Makanya, begitu pendaftaran sebuah ponpes dibuka, kami langsung mendaftar. Unfortunatelly (ah semua ada hikmahnya), anak saya, si Kakak, enggak keterima. Sedih dan kecewa pastilah. Syukurlah, si Kakak sedihnya nggak lama. Kami mencari ponpes lain. Lebih jauh letaknya. Ternyata pendaftarnya tak kalah banyak dengan ponpes pertama. Dan lagi-lagi si Kakak enggak lolos. Semua juga heran. Karena di sekolah dia hampir selalu masuk 10 besar, kayaknya cuma sekali di rank 11.

Ya sudah, kami memutuskan mendaftarkan ke ponpes yang lain (bukan favorit dan belum terkenal :D ) selain ke SMPIT (yang ini favorit dan masuk 10 besar SMP di kota Solo). Akhirnya keduanya diterima, tetapi si Kakak ternyata memilih SMPIT dengan catatan dia tinggal di pondok tahfidz Griya Qur'an, karena SMPIT ini memang tidak ada boarding-nya. Jadi, antara sekolah dan pondok beda yayasan dan beda lokasi. Kondisi ini cukup bikin saya kurang sreg sebenarnya. Tapi, berhubung si Ayah dan si Kakak memutuskan memilih ini, jadilah suara saya kalah.
 
Hari ini si Kakak dengan penuh semangat siap-siap untuk mondok. Sebenarnya sudah terlambat masuk, tapi karena saya kenal ustadz pembinanya, jadi diperbolehkan. Beliau menyarankan agar si Kakak latihan selama 2 hari sebagai masa percobaan. Kalau kerasan ya diteruskan, kalau enggak ya pulang.

Tiba-tiba saja perut saya enggak karuan, dada berdebar. Hati kok merasa berat melepas si Kakak mondok. Saya mengajarinya dulu cara mencuci baju (di sana mmg mencuci sendiri) dengan mulut kering. Dia begitu yakin bakal bisa melakukannya.

Saya tercenung. Banyak hal melintas di pikiran saya. Bagaimana dia besok berangkat sekolahnya? (Rencananya naik sepeda, karena jaraknya mmg tidak terlalu jauh). Bagaimana dia mengurus dirinya? Bagaimana belajarnya? Bagaimana kalau ada tugas dari sekolah, terutama jika membutuhkan materi yang harus dibeli? Bagaimana dia menyiapkan seragam sekolahnya?
Haduuuh, rasanya ingin menahan si Kakak di rumah saja. Tapi, di dalam hati yang jauh di sana berbisik, "Apa bisa kamu membimbingnya menjadi hafidz?" Karena, cita-cita kami dan keinginan si Kakak memang menjadi hafidz (penghafal) Al-Qur'an.
Saya tentu saja tidak sanggup, mengingat kemampuan dan kepahaman keagamaan saya dan suami yang pas-pasan, tentu butuh pembimbing dan milieu yang mendukung keinginan itu.

Sampai saat menulis ini, hati saya masih terasa berat, tetapi semoga Allah Swt. memberikan keikhlasan pada kami semua. Begini, kok, ingin punya anak sehebat Imam Syafii?

  

Sabtu, 05 Juli 2014

#Honestly Gue Banget Giveaway Bisa Kerja di Mana Saja dan PW aka Posisi Wueanak!

Yay ...! Pas banget dengan keinginan terpendam ingin punya smartphone yang layarnya lebar dari merek andal, ada info tentang Nokia Lumia dari event Lomba #Honestly Gue Banget Giveaway.

Nokia memang juaranya untuk urusan gadget. Saya punya hp pertama kali dan second mereknya Nokia. Sejak itu nggak pindah ke merek lain. Sudah jatuh berapa kali, kebanting berapa kali, tetep aja hp itu "ndableg" nyala. Sampai-sampai saya nggak ganti yang baru meskipun model dan fiturnya ketinggalan. Hp masih bisa bunyi gitu sayang kalau ditinggal, kan.
Berhubung pekerjaan saya adalah editor lepas dan penulis yang sok jadi fotografer dan selalu ngences liat jepretan mereka, jadi Live Tiles yang bakal saya pin ya ini:

MICROSOFT OFFICE dan Outlook
Kenapa? Karena kalau mau tepat waktu dan produktif, saya harus bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Pas di perjalanan atau menunggu sebuah acara, daripada bengong mending nulis ide atau nerusin pekerjaan nulis dan ngedit. Kalau cepat setor, cepat pula dapat order berikutnya.
Akhir-akhir ini punggung dan leher saya suka pegal kalau kelamaan duduk di depan komputer. Pantat juga serasa gepeng dan panas. Kepingin bisa ngerjain order sambil tengkurap, telentang, atau guling-guling di kasur. Sudah mikir mau beli, tapi harus yang layarnya lebar. Nokia Lumia 6 inchi pas banget buat mata minus.


SMART CAM
Beberapa waktu lalu pas datang ke acara resepsi, saya melihat fotografer yang penampilannya unik. Cling ... langsung pingin menjadikannya sebagai salah satu karakter di novel. Biasanya saya suka bawa note dan pensil buat nulis. Tapi, saat itu saya nggak bawa karena tas tangan kecil. Saya jepret aja pakai kamera saku. Tapi kok ya malu-maluin dan takut ketahuan juga. Seandainya punya Lumia dengan aplikasi smart cam pasti lebih asyik dong.
Menjepret tempat yang bakal saya jadikan setting di tulisan juga bakal lebih nyaman dan praktis. 

STORY TELLER
Ini aplikasi yang tak kalah penting. Kalau pas ada acara, entah pertemuan keluarga besar atau liburan, pasti berasa garing tanpa potret sana potret sini dari awal sampai selesai. Kalau punya aplikasi kayak gini, bakalan mudah kalau mau nulis liputannya untuk media dan di blog, kan? 

PEOPLE HUB
Bekerja di rumah bukan berarti jadi kuper dan kudet, dong. Sebagai penulis harus aktif bersosialisasi (buat promo hohoho) agar dapat info terkini tentang order yang masuk lewat email, dunia kepenulisan, dunia perbukuan, dan dunia penerbitan, melalui FB, Twitter, Path, Google +.

Ini Live Tiles versi saya, apa versi kamu?

Postingan ini diikutsertakan dalam #Honestly Gue Banget Giveaway oleh blog Gracie's Diary.