Tampilkan postingan dengan label Intermezo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intermezo. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 November 2018

5 Tema Blog yang Paling Sering Saya Tulis


source: pexels
Tantangan hari kedua ini adalah tentang tema blog yang paling disukai. Sebagai manusia random, saya jelas bingung menentukan tema apa yang paling saya sukai dan tidak. Semua tema rasanya menarik untuk ditulis. Menurut para pakar SEO seharusnya blogger memilih niche tertentu yang hendak difokuskan sebagai tema blognya. Saya pernah mencoba konsisiten menulis tema tertentu, sih. Namun, lama-kelamaan tegoda untuk menulis berbagai tema. Di antara sekian banyak tema, ternyata ada 5 tema blog yang paling sering saya tulis di blog ini.

1. All About Writing and Editing

Berhubung pekerjaan saya adalah penulis dan editor lepas, jadi saya paling sering menulis tema penulisan dan penyuntingan. Selain untuk berbagi, juga sekalian sebagai promo. Beberapa catatan tentang aturan penyuntingan saya tulis di blog dengan tujuan utama sebagai pengingat. Sebab, beberapa aturan penyuntingan yang saya tulis di buku atau kertas, sering tiba-tiba ketlisut. Daripada pusing mencari, lebih enak disimpan di blog sehingga bisa dibuka sewaktu membutuhkan.
Karena ingin mengkhususkan tema tulis menulis dan penyuntingan akhirnya saya membuat blog lain khusus tentang penulisan dan penyuntingan di "Kastil Kata".

2. Cerita tentang Pengalaman Sehari-hari

 

Siapa sih yang enggak butuh curhat? Saya termasuk orang yang tidak betah untuk tidak curhat jika sedang ada masalah atau menemukan pengalaman menarik. Tetapi, terlalu banyak curhat di Facebook, kurang bagus juga, ya kan. Karena itu, mengapa tidak ditulis di blog saja. Rasanya lebih bebas menulis pengalaman hidup sehari-hari di blog daripada media sosial lain. Selain lebih mudah dicari, juga bisa menambah pengunjung blog kita. Syukur-syukur bisa sekalian mendatangkan pundi-pundi dollar.

3. Review Buku

 

 Sebagai penghobi baca, tentu saja mereview buku menjadi semacam "kebutuhan" untuk berbagi dengan sesama pencinta buku. Awalnya saya sering menulis review buku-buku hasil pekerjaan saya sebagai editor. Lama kelamaan mulai tertarik untuk mereview semua buku yang sudah saya baca. Hingga kemudian saya berkenalan dengan para blogger buku dan masuk ke komunitas blogger buku Indonesia. Karena salah satu syaratnya adalah memiliki blog khusus tentang buku saja, sehingga saya membuat blog lain yang khusus menulis tema buku. Blog Aku Buku dan Kopi adalah blog saya yang membahas seluk beluk perbukuan, termasuk cerita saat kalap membeli buku.


4. Cerita Makanan dan Jalan-Jalan

 

Menceritakan tentang kisah jalan-jalan kita juga asyik, kan. Beberapa kali saya menulis tentang perjalanan saya dengan kereta api. Jenis transportasi yang paling saya sukai.
Biasanya acara jalan-jalan tak jauh dari acara makan-makan. Apalagi di kota Solo ini terkenal dengan kulinernya. Mengulas tentang makanan khas Solo dan sekitarnya bisa melarutkan pikiran saking serunya.


5. Tips and Trik 

 

Sebagai ibu, sering menghadapi hal-hal tak terduga meski kadang hanya remeh. Misal tiba-tiba telur pecah di lantai sehingga aroma amis menguar ke mana-mana. Bahkan meski sudah dipel tetap saja masih bau amis. Lain kali, serombongan semut bertamu dan asyik menikmati jatah ayam si kecil Bingung, dong, bagaimana mengatasi masalah itu? Karena itu, penting juga menyimpan tips and trik mengatasi berbagai masalah 'remeh temeh' seperti itu.
Tips and trik semacam cara merepost foto di Instagram, cara mengedit foto, dan semisal juga saya sukai. Sebagaimana saya sering mencari tips dan trik seperti itu di internet, apa salahnya berbagi tips dan trik yang kita ketahui untuk orang lain.

Bagi saya, meski blog ini saya monetisasi, tetapi saya tak mau kehilangan kebebasan dan kebahagiaan saya dalam menulis blog. Jadi, meski mungkin tema blog random seperti punya saya ini, yang katanya susah untuk dirayapi mesin pencari, bagi saya tak masalah, selama saya bisa menikmati proses menulisnya dan asyik-asyik di dalamnya.

Kamis, 06 Februari 2014

Bad Mood! Terus Ngapain?

credit: http://kidshealth.org/teen/your_mind/emotions/bad_mood.html
Hari ini tiba-tiba mood saya buruk. Padahal saya sudah mengawali pagi dengan prestasi yang cukup membanggakan, lho. Jadi, mulai bulan ini kedua anak saya tidak lagi mengikuti catering di sekolah. Dan tugas itu jatuh ke tangan ibunya. Ya iyalah, mau siapa lagi memangnya?

Pagi tadi, karena suami yang biasanya siaga membantu sedang tak di rumah. Otomatis saya sendirian mempersiapkan kebutuhan anak-anak. Malam saya sudah nyicil setrika baju seragam. Plus sorenya membuat bakso.

Karena berangkat bareng sepupu, jadi anak-anak harus sudah siap pukul 6.30. Iya, biasanya pukul 6.45 kadang pukul 7 baru pada berangkat :)
Alhamdulillah, pukul 6.35 anak-anak sudah siap dengan bekal makan-minum masing-masing. Dan itu hasil masakan saya, lho! *alah ...

Nah, begitu mereka berangkat, saya dengan semangat prajurit terdepan menghidupkan kompi. Niatnya mau nulis sampai jam 10. Jadwal yang saya buat kemarin dan berusaha saya tepati. Tapi ... baru mau nulis, tiba-tiba saja mood saya anjlok. Mau mengetik satu huruf saja males. Entah bagaimana kepala malah mulai pusing. Akhirnya saya coba tidur. *pamali nggak ya tidur pagi-pagi?

Sayangnya, baru pas enak-enaknya tiba-tiba terdengar suara salam berkali-kali dengan intonasi tinggi sambil mengetuk-ngetuk pagar besi. Hadooooh ... seketika saya  bangun dengan sempoyongan, badan seperti melayang, plus jantung berdegup karena kaget.
Buru-buru saya memakai jilbab dan keluar, tapi ternyata dia mencari suami saya. Karena tidak ada, dia langsung pergi meninggalkan saya yang harus memegangi kepala karena pusing dan agak gemetar.

Saya coba tiduran lagi, tapi malah gelisah. Mengingat beberapa target yang belum tercapai saya berusaha semangat lagi. Pertama saya iseng sms suami menanyakan posisi di mana dan sedang mikir apa. Padahal saya tahu beliau sedang di kereta. Alhamdulillah setelah sms-an mood saya sedikit membaik meski belum cukup untuk membuat saya mau menulis. *aslinya kangen suami kali .... :p

Selanjutnya saya bersih-bersih dapur, yg masih terbengkalai karena kemarin iseng mengubah posisi tempat piring dan perabotan lain. *kebiasaan.

Berikutnya saya ngopi, He .. jangan salah, cuma kopi sachet, kok, bukan yang pakai perkulator dan brewing-brewing atau apa gitu istilahnya yang saya nggak mudeng blas, tapi suatu saat pingin mencoba dan beberapa waktu lalu pernah rasanan sama suami buat beli perkulator *padahal dilarang minum kopi sama dokter, lagian memangnya harganya nggak mahal apa?

Oya, habis ngopi, saya ngeblog dulu sambil dengerin Il Divo. Tadi juga sempat buka web-nya Femina buat baca-baca cerpen-cerpennya. Lumayan mood menulis mulai terbit.

Begitulah saya mengatasi bad mood pagi ini. Kalau temen-temen bagaimana? Jangan-jangan malah selalu good mood, ya. Wah, ngiri pake banget kalau begitu.

Selasa, 23 Juli 2013

Hari Anak Nasional

Tadi pagi saat membuka internet, saya melihat logo google dengan anak saling bergandeng tangan. Oh, ternyata hari ini adalah hari anak nasional. Om Google yang serba tahu itu seperti biasa memang paling informatif untuk momen-momen seperti ini.
Langsung saja saya kepikiran ingin membuat blog khusus review buku anak. Tapi, mengingat blog buku saya yang sudah ada saja jarang diupdate, saya batalkan rencana itu. Untuk smentara biarlah seluruh review buku jadi satu blog dulu.
Lalu kepikiran pingin bikin review buku anak. Selama ini buku-buku yang saya baca, kebanyakan tak sempat saya review *lebih karena malas :D* Tapi, deadline nulis sudah demikian dekat. *mulai galau*. Dan rencana itu pun tak terealisasi.
Sore in, pas buka grup di FB ada pembahasan tentang cita-cita anak. Banyak komentar yang menanggapi postingan itu. Saya jadi ingat percakapan dua anak saya beberapa waktu lalu. Saat itu mereka pertama kali masuk di kelas yang baru. 
Si Kecil: Tadi aku disuruh nulis ini, Bu. (Dia menunjukkan buku tulisnya. Ada daftar tentang nama, alamat, nomor telepon sampai hobi dan cita-cita).
Saya : Ini alamatnya salah sedikit. (Saya pun membenarkan no rt-nya)
Si Kecil : (sambil tersenyum) Aku lupa, sih.
Saya : Hobi naik sepeda. Cita-cita jadi dokter? (Saya tertawa).
Si Kecil : (ikut tertawa) Yo nggak pa-pa to, Bu!
Si Kakak: Dia mau jadi dokter keliling! (tertawa geli)
Saya : Oh, bisa juga begitu. (senyum-senyum)

Lain adiknya, lain pula kakaknya. Si Kakak sering gonta-ganti cita-cita. Waktu TK dan kelas satu SD, dia selalu bilang mau jadi mujahid *wew*. Kemarin-kemarin dia ingin jadi Imam Masjidil Haram *wow*. Ini gara-gara mendengar cerita saya tentang ceramah salah satu ustadz. Tapi, dengan cepat cita-citanya berubah. Sekarang dia ingin jadi HACKER INDONESIA! Hah, apa pula ini, Nak?
Tak mau mengikuti jejak orang tua dalam pendidikan anak-anaknya, saya berusaha memperhatikan kecenderungan dua anak saya. Saya akan memfasilitasi dan membuka dunia mereka lebar-lebar dan tentu memberikan petunjuk dan referensi agar mereka bisa berkembang secara maksimal.
Orang tua saya bukan mengekang, justru terlalu percaya kami bisa menemukan masa depan kami sendiri, sehingga kami malah gagap melihat kemampuan diri sendiri.
Mendidik dan mendampingi anak memang gampang-gampang susah. Maka selain doa, tentu saja ikhtiar maksimal harus dilakukan.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Manusia dan Aktivitas Berpikir

Allah Ta'ala memerintahkan untuk berpikir dan merenungkan secara mendalam tentang kitab-Nya yang agung. Allah menyanjung orang-orang yang mau berpikir. Allah Ta'ala berfirman, “Orang-orang yang mengingat Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi, ‘Wahai Rabb kami, tidaklah engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia.’”
Ibnu Abbas ra. berkata, “Sesungguhnya suatu kaum berpikir tentang Allah Azza wa Jalla, lantas Rasulullah saw. bersabda, ‘Hendaklah kalian berpikir tentang makhluk ciptaan Allah dan jangan berpikir tentang Allah, sebab kalian tidak mampu menggapai Kedudukan-Nya.’”
"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang berakal.’ Rasul bersabda, ‘Celakalah orang yang membacanya tetapi tidak mau berpikir tentangnya.’”
Dari Al-Hasan, dia berkata, “Berpikir sesaat itu lebih baik daripada shalat sepanjang malam.”
Dari Al-Fudhail, dia berkata, “Berpikir adalah cermin yang akan memerlihatkan kepadamu kebaikanmu dan keburukanmu.”
Ditanyakan kepada Ibrahim, “Mengapa kamu banyak berpikir?” Dia menjawab, “Berpikir adalah sumsum ibadah.”
Sufyan bin Uyainah adalah ulama yang banyak diterima ucapannya. Dia berkata, “Apabila seseorang mempunyai pikiran yang terasah maka dalam segala hal dia pasti dapat mengambil pelajaran.”
Dari Thawus, dia berkata, “Kaum Hawariyun berkata kepada Isa bin Maryam, ‘Wahai Ruhullah, apakah ada orang yang setara dengan engkau di muka bumi ini sekarang?’ Isa menjawab, ‘Ya. Orang yang dalam omongannya ada zikir, dalam diamnya ada berpikir, dan dalam pandangannya ada pelajaran, maka dia itu setara denganku.’”
Al-Hasan berkata, “Barangsiapa ucapannya bukan hikmah maka itu pastilah sia-sia. Siapa saja yang keluhannya itu bukan berpikir maka itu pastilah kelalaian. Barangsiapa pandangannya tidak memiliki pelajaran maka itu pasti kesia-siaan.” Adapun tentang firman Allah, “Aku (Allah) akan memalingkan dari ayat-ayat-Ku orang-orang yang bersikap sombong di muka bumi tanpa kebenaran”, dia menjelaskan, “Aku (Allah) akan mencegah hati mereka dari berpikir tentang urusan-Ku.”
Dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Berikanlah kepada matamu hak untuk beribadah.” Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa hak ibadahnya?” Rasul menjawab, “Melihat mushaf, berpikir tentang isinya, dan mengambil pelajaran dan keajaibannya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya, dan sebagian jalan periwayatannya adalah Abu Syaikh Ibnu Hibban dalam kitab Al-‘Uzhmah dengan sanad yang dhaif.)
Luqman al-Hakim sering duduk sendirian dalam waktu yang lama. Majikannya datang kepadanya lantas berkata, “Luqman, kamu terlalu lama duduk sendirian. Andaikata kau mau duduk bersama orang lain niscaya itu lebih menyenangkan untukmu.” Luqman menjawab, “Sesungguhnya lamanya bersendiri itu lebih memahamkan pikiran, sedang panjangnya pikiran itu menjadi penunjuk jalan menuju surga.”
Wahb bin Munabbih berkata, “Tidaklah seseorang berpikir dalam waktu yang lama kecuali dia akan memahami dan seseorang tidak memahami sesuatu sama sekali kecuali dia pasti mengamalkannya.”
Umar bin Abdul Aziz berujar, “Berpikir tentang nikmat-nikmat Allah Azza wa Jalla itu termasuk ibadah yang paling utama.”
Dari Ibnu Abbas, “Dua rakaat yang sengaja diarahkan untuk berpikir itu lebih baik daripada mengerjakan shalat semalam suntuk tetapi tanpa menghadirkan hati.”
Abu Sulaiman bertutur, “Biasakanlah mata kalian untuk menangis dan biasakan hati kalian untuk berpikir.”
Abu Sulaiman berkata, “Berpikir tentang dunia menghalangi akhirat dan menjadi siksaan bagi para pemegang kekuasaan. Sedangkan berpikir tentang akhirat mewariskan hikmah dan menghidupkan hati.”
Hatim berujar, “Dari mengambil pelajaran bertambahlah ilmu, dari zikir bertambahlah cinta, dan dari berpikir bertambahlah rasa takut kepada Allah.”
Ibnu Abbas berkata, “Berpikir tentang kebaikan mendorong orang untuk mengamalkannya. Adapun menyesali keburukan akan mendorong orang untuk meninggalkannya.”
Al-Hasan berkata, “Sesungguhnya orang yang berakal senantiasa membiasakan diri berzikir saat berpikir dan berpikir saat berzikir, sehingga mereka dapat menyuruh hati mereka berbicara, lantas hati itu berbicara dengan hikmah.”
Junaid bertutur, “Majelis termulia dan tertinggi adalah duduk sembari berpikir di lapangan tauhid, bernapas dengan napas makrifat, minum dengan gelas cita dari lautan kasih sayang, memandang dengan sangka baik kepada Allah Azza wa Jalla.” Kemudian dia berkata, “Aduhai majelis ini alangkah mulianya, minuman ini alangkah lezatnya. Betapa bahagianya orang yang diberi anugerah itu.”
Asy-Syafi’i juga berkata, “Keshahihan pandangan terhadap semua urusan membuahkan keselamatan dari ketertipuan. Keteguhan berpendapat merupakan penyelamat dari tindakan melampaui batas dan penyesalan. Merenung dan berpikir akan menyingkapkan tekad. Kecerdasan dan bermusyawarah dengan para bijak bestari itu akan meneguhkan jiwa dan menguatkan daya pandang. Oleh karena itu, berpikirlah sebelum kamu bertekad. Merenunglah sebelum kamu menyerang. Bermusyawarahlah sebelum kamu melangkah maju.”
Asy-Syafi’i juga bertutur, “Fadhilah itu ada empat macam. Yang pertama hikmah, penyangganya adalah berpikir. Yang kedua adalah keperwiraan diri, penopangnya berada pada syahwat. Yang ketiga adalah kekuatan, penyangganya terletak pada kemarahan. Keempat adalah keadilan, penopangnya terdapat pada pelurusan kekuatan jiwa. Inilah qaul ulama tentang berpikir dan tiada seorang pun dari mereka yang menjelaskan hakikat dan jalannya.” (Terjemah Kitab Tafakkur, oleh Irwan Raihan)

Kamis, 10 Februari 2011

Lima Motivasi untuk Hidup Lebih Baik

"Pesan Berantai": dari Pak Hernowo dari Betti Alisjahbana:

"Pesan Betti Alisjahbana kepada Anak-anakku"

Kemarin siang, saya memperoleh bacaan bagus di sebuah milis yang saya ikuti. Bacaan itu merupakan “Graduation Speech” dalam acara Syukuran dan Pelepasan Wisudawan program Sarjana dan Paska Sarjana Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Siapa yang menyampaikan pidato sambutan itu? Betti Alisjahbana.

Menurut Betti sendiri, tema sambutannya adalah “Tiga Tantangan Profesi Teknologi Informasi”. Pidato itu disampaikan pada Jumat, 4 Februari 2011, dan diawali dengan kata-kata berikut ini: “Besok Anda akan memasuki bab baru dalam hidup Anda. Dan kesempatannya sangat luas. Sebagian dari Anda ada yang akan bekerja pada suatu organisasi, sebagian lagi mungkin akan memulai bisnis sendiri.

“Satu hal yang pasti, Anda telah memilih bidang yang sangat menarik dan strategis. Begitu strategisnya bidang ini, sehingga saya yang dulu kuliah di bidang Arsitektur pun berpindah rel untuk berkarir di bidang Teknologi Informasi.”

Entah kenapa, tiba-tiba saja, begitu saya membaca pidato awal ini, saya pun langsung teringat kepada anak-anak saya. Pesan Betti ini sangat bagus untuk dibaca oleh keempat anak-anak saya. Saya pun langsung mengirim pidato ini ke semua anak saya via e-mail. Saya berharap sekali mereka mau membaca dan memahaminya.

Di akhir pidatonya, Betti memberikan “jalan” kepada anak-anak saya agar anak-anak saya dapat lebih baik dalam menjalani hidup dalam bentuk lima ide. Berikut ini saya kutipkan kelima ide Betti yang langsung saya anggap sebagai “Pesan 2011” saya kepada anak-anak saya:

Lima Ide untuk Mencapai Lebih dalam Hidup

Saya akan menutup sambutan saya dengan menyampaikan lima kiat untuk membuat Anda lebih sukses dalam hidup. Jadi bagi Anda yang tadi belum menyimak, sekarang waktunya untuk menyimak.

#1 Ciptakan Mimpi Besarmu

Cita-cita memberikan arah dan momentum dalam hidup. Sukses dalam kehidupan dibangun dari capaian demi capaian menuju suatu cita-cita. Ketika kita dihadapkan pada situasi sulit, cita-cita kitalah yang membuat kita terus bersemangat.

#2 5..4..3..2..1 ACTION!

“Banyak orang punya ide yang hebat, tetapi ide itu tidak kunjung dilaksanakan. Padahal ide saja tidak akan membawa kita kemana-mana.” Katanya, kata motivation berasal dari kata “motive” dan “action”. Dengan kata lain, “motivation” hanya ada bila kita punya tujuan (motive) dan ada tindakan. Jadi, bila kita merasa kehilangan motivasi dalam hidup ini, kemungkinan besar kita tidak punya “motive” dan kurang “action”.

Banyak orang memiliki ide, tetapi tidak dilaksanakan hanya karena takut membuat kesalahan. Hal ini sebenarnya bisa diatasi jika kita dapat melihat kesalahan sebagai hal yang positif. Kita belajar ketika kita membuat kesalahan.

Bukankah kita belajar paling banyak ketika kita membuat kesalahan? Berapa banyak kesalahan dibuat oleh seorang anak ketika mereka pertama belajar merangkak, lalu berjalan, hingga akhirnya berlari? Mereka belajar sambil berbuat dan memperbaiki apa yang salah. Mereka belajar secara alamiah. Tetapi, ketika menjadi dewasa, kita seringkali lupa bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Kesalahan hanya terjadi ketika kita mengambil tindakan.

Tindakan adalah dasar dari keberhasilan dalam hidup. Jadi sederhananya, pertama kita punya tujuan, lalu ambil tindakan, barulah keberhasilan akan datang. Ingatlah, “a journey of a thousand miles begin with a simple step”. What will your first step be?

#3 Semuanya Tergantung Saya, Bukan Orang Lain: If it is to be, it’s up to me

Salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi dalam hidup adalah berani menerima kenyataan bahwa kita bertanggung jawab atas apa yang kita alami dalam hidup kita.

Kita punya kecenderungan untuk menyalahkan semua orang kecuali diri kita sendiri dari waktu ke waktu. Kenyataannya, dengan menyalahkan orang lain, kita sebetulnya telah menyerahkan kontrol terhadap hidup kita dan menghilangkan kesempatan untuk belajar dari kesalahan yang kita buat. Saat di mana kita berhenti mencari-cari kesalahan orang lain atas kesalahan yang kita buat, adalah saat di mana kita mulai menemukan kekuatan untuk berprestasi.

#4 Ciptakan Peluang Kita

Peluang tidak datang begitu saja, peluang kita ciptakan. Kita tidak begitu saja bertemu dengan peluang, melainkan kita mempersiapkan diri kita dengan pertama-tama membuka wawasan bagi munculnya ide baru dan masukan masukan. Semuanya berawal dari keputusan untuk ingin membawa hal baru dalam hidup kita.

Belajarlah untuk bertanya. Apa yang saya ingin lakukan dalam hidup saya? Apa yang saya bisa lakukan untuk mengubah hidup saya? Atau, di mana saya bisa mendapat informasi yang akan membantu saya untuk mencapai tujuan saya dengan lebih cepat? Belajarlah untuk menentukan tujuan dan mengambil tindakan. Karena tindakanlah yang akan mempersiapkan diri kita untuk bisa mengenali dan memanfaatkan peluang-peluang dalam hidup kita.

Ada banyak peluang di sekitar kita. Bila kita mencarinya, kita akan menemukannya. Ingatlah bahwa peluang jarang mengetuk pintu. Kitalah yang harus mengetuk pintu peluang, bila kita ingin masuk ke dalamnya.

#5 Investasi Pada Diri Sendiri

Kita tidak perlu kaya dulu untuk menjadi seorang investor. Tetapi sebaliknya, kita harus menjadi investor bila kita ingin kaya. Dan ingatlah bahwa dari semua investasi yang bisa kita buat, investasi pada diri sendiri adalah investasi yang akan memberikan hasil yang terbesar dan paling penting yang bisa kita harapkan.

Inti dari berinvestasi pada diri sendiri adalah secara sadar mengontrol hidup kita dan memutuskan untuk mengalokasikan sebagian dari sumber daya yang terbatas yang kita miliki untuk pengembangan diri. Suatu pengembangan keterampilan dari dalam keluar. Keterampilan hidup yang akan mempengaruhi semangat, sikap, kebiasaan, dan tingkah laku—yang pada akhirnya akan membuat membentuk nasib kita.

Berinvestasi pada diri sendiri berarti bukan hanya belajar ,tetapi juga melatih keterampilan-keterampilan baru. Itu berarti mengalokasikan sebagian waktu kita, uang kita, dan energi kita. Itu berarti berkorban sekarang untuk sesuatu yang penting di masa depan.

Anak-anakku, jika ingin tahu lebih lengkap, silakan klik ini ya?:

http://www.facebook.com/notes/betti-alisjahbana/tiga-tantangan-profesi-teknologi-informasi/10150091469603559

Rabu, 22 September 2010

Surat Ibu untuk Putranya

Seperti kebiasaan keluarga kami jika lebaran pasti mencari tempat yang nyaman untuk membicarakn masalah keluarga sambil makan-makan. Diakhiri dengan pesan (nasihat) dari Bapak. Lebaran kemarin pun demikian. Tapi ada satu yang sangat berkesan karena Bapak membagi sebuah buku kecil kepada seluruh anak dan sebagian cucu. Buku tulisan Ust. Armen Halim Naro.
Saya ingin membagi kepada orang lain, sebab baru sampai di lembar kedua, mataku basah oleh air mata. Demikian juga dengan suami dan anak laki-lakiku yang berusia 8 th.
Inilah isi buku itu.

Surat Ibu kepada Putranya

“Orang tua pintu surga yang di tengah, sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!” (HR. Ahmad)

Kutitip surat ini anakku!

Nanda yang kusayangi di bumi Allah Ta’ala.

Segala puji Ibu panjatkan ke hadirat Allah Ta’ala yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, dan para Shahabatnya. Amiin.

Wahai Anakku, surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara.

Setelah berpikir panjang, Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri.

Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula hati terluka …

Wahai anakku! Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak. Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.

Wahai anakku! Dua puluh lima tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi .…

Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan, bernapas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku. Sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia.

Engkau pun lahir … Tangisku bercampur dengan tangismu. Air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit.

Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air ke kerongkonganku.

Wahai anakku …. Telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.

Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu.

Itulah kebahagiaanku.

Kemudian berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak mengenal lelah serta mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.

Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu.

Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu.

Semakin dekat hari perkawinan, semakin dekat pula hari kepergianku. Saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa.

Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena negkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.

Waktu pun berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu. Senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran.

Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Aka tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatangnmu. Setiap kali berderit pintu aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang.

Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku ….

Ibumu ini tidaklah meminta banyak dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikanlah Ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah Ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.

Dan Ibu memohon kepadamu, Nak, janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku. Jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu.

Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah Ibumu salah satu tempat persinggahanmu agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi , atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit

Berdiri seharusnya dipapah, duduk pun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu

Masih seperi lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.

Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada Ibumu …. mana balas budimu, Nak?

Mana balasan baikmu? Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa? Akan tetapi kenapa, Nak, susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba?

Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman:

“Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?” (QS. Ar-Rahman: 60)

Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu? Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia degan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak?

Engkau adalah buah dari kedua tanganku

Engkaulah hasil dari keletihanku.

Engkaulah laba dari semua usahaku.

Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu? Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantumu? Mana upah yang layak untukku, wahai anakku?

Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu?

Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah Ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.

Wahai anakku, aku hanya ingin melihat wajahmu dan aku tidak menginginkan yang lain.

Wahai anakku, hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi.

Anakku …, tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini? Ia binasa dimakan rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan! Bukan karena apa-apa! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya … hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya … hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya … hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturahmi?

Wahai anakkku, Ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilahh jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah Ta’ala, sebagaimana dalam hadits:

“Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!” (HR. Ahmad)

Anakku, aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.

Akan tetapi, Anakku, mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu. Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia bersabda:

Dari Ibnu Mas’ud berkata: aku bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia?” Beliau bersabda, “Shalat pada waktunya.” Aku berkata, “Kemudian apa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Dan aku berkata, “Kemudian apa, wahai Raslullah?” Beliau menawab, “Jihad di jalan Allah.” Lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun alaih)

Wahai Anakku, ini aku, pahalamu. Tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak.

Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?

Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reyotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya d sebelah gubuk reyotnya orang mendirikan tambang emas.

Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tetapi engkau lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang mahabesar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhaku adalah keridhaan Allah Ta’ala dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?

Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi dalam sabdanya:

“Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang.” Dikatakan, “Siapa dia, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, tetapi tidak memasukkannya ke surga.” (HR. Muslim)

Anakku, aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah karena sekiranya keluhan ini telah membubung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada dokter yang dapat menyembuhkannya.

Aku tidak akan melakukannya, Nak. Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku…

Bagaimana Ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.

Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula dan al-jaza’ min jinsil amal … “engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam”.

Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.

Wahai anakku, bertakwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya! Basuhlah air mataya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.

Anakku … setelah engkau membaca surat ini, terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

Wassalam

Ibumu

Sumber: Ust. Armen Halim Naro