Tampilkan postingan dengan label Dunia Penerbitan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Penerbitan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juni 2013

Quanta: mencari naskah islami

Siapa ingin jadi Penulis Bestseller??

Quanta mencari naskah islami


Bagi Siapa pun yang suka menulis, silakan kirim tulisannya,  baik itu Motivasi Islami, Novel Islami, atau buku-buku keislaman lainnya dengan urutan naskah:

1. Judul dan nama penulis di halaman depan.
2. Kata Pengantar
3. Daftar Isi
4. Isi
5. Daftar Pustaka
6. Riwayat penulis
7. Sinopsis
8. Endorsment (Jika ada)

Insya Allah, apabila kami tertarik kami bantu menerbitkanya di Quanta Elex Media Komputindo Kompas Gramedia.

Silahkan kirim ke email: Dudi@elexmedia.co.id

Alamat Media, Kriteria Tulisan, dan HONOR

 Alamat Media, Kriteria Tulisan, dan HONOR
KOMPAS: Cerpen eksperimental dan konvensional. Cenderung tema-tema sosial dengan semangat 'pembebasan'. Memberi perhatian lebih pada liberalisasi, termasuk liberalisasi nilai sastra. Namun, karena kesadaran publik tertentu, Kompas tetap tampak sangat berhati-hati meloloskan cerpen. Maksimal karakter tulisan: 10-13.000 karakter. Honor tulisan: Rp 1 juta. Email: opini@kompas.co.id

 
KORAN TEMPO: Menyukai cerpen puitis (pola tutur atau pengucapan bahasa estetis) tetapi cenderung menerima semua genre sastra. Juga memberi perhatian pada liberalisasi nilai-nilai sastra, namun lebih longgar. Maksimal karakter tulisan: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp700 ribu. Email: ktminggu@tempo.co.id

 
REPUBLIKA: Membuka diri pada cerpen konvensional/eksperimental (tema apa saja, pendekatan Islami, semangat pencerahan). Republika lebih moderat. Bermisi kaderisasi. Tak kaku dalam selera estetik. Republika berideologi Islam kosmopolitan, tidak akan memuat/mempromosikan karya (secara estetik dan tematik) berlawanan dengan ajaran Islam (dalam pengertian yang formalistik, tapi substansial). Maksimal karakter tulisan: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp400 ribu. Email: sekretariat@republika.co.id

MEDIA INDONESIA: Menyukai cerpen eksperimental, bertema kosmopolit maupun sekuler. Maksimal karakter tulisan: 9.000 karakter. Honor cerpen Rp900 ribu. Email: cerpenmi@mediaindonesia.com


SUARA PEMBARUAN Menyukai cerpen konvensional. Cenderung menyukai tema kepincangan sosial. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp400 ribu. Email: koransp@suarapembaruan.com


SUARA KARYA Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 8.000 - 10.000 karakter. Honor Rp150 ribu. Email: amiherman@yahoo.com


JURNAL NASIONAL Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional. Panjang cerpen: 1000 kata. Format Rich Text Format (rtf) on attachment. Honor Rp375 ribu. Email: redaksi@jurnas.com, witalestari@jurnas.com, tamba@jurnas.com


SUARA MERDEKA Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 8.000 - 10.000 karakter. Honor Rp350 ribu. Email: swarasastra@yahoo.com


SINAR HARAPAN Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp200 ribu. Email: redaksi@sinarharapan.co.id, blackpoems@yahoo.com


THE JAKARTA POST Cerpen berbahasa Inggris, dengan tema eksperimental dan konvensional. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp900 ribu. Email: editorial@thejakartapost.com.


JAWA POS Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp1 juta. Email: ari@jawapos.co.id, ariemetro@yahoo.com


KEDAULATAN RAKYAT Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp400 ribu. Email: redaksi@kr.co.id, jayadikastari@yahoo.com


KORAN BERNAS Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, khususnya isu ke-jogja-an. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp125 ribu. Email: koranbernas@yahoo.com, bernasjogja@yahoo.com.


JOGLOSEMAR (Jogja-Solo-Semarang) Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp200 ribu. Email: harianjoglosemar@gmail.com


SOLOPOS Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp200 ribu. Email: redaksi@solopos.com, redaksi@solopos.co.id


PIKIRAN RAKYAT (Bandung) Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp200 ribu. Email: khazanah@pikiran-rakyat.com


TRIBUN JABAR (Bandung) Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: hermawan_aksan@yahoo.com, cerpen@tribunjabar.co.id


JURNAL BOGOR Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp400 ribu. Email: donyph@jurnas.com


BALI POST (Denpasar) Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp200 ribu. Email: balipostcerpen@yahoo.com, redaksi@balipost.co.id


RADAR SURABAYA Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp270 ribu. Email: radarsurabaya@yahoo.com


MINGGU PAGI Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: we_rock_we_rock@yahoo.co.id


KORAN MERAPI Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: budaya.merapi@yahoo.co.id


SUMUT POS Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: sumutbudayapos@yahoo.co.id


LAMPUNG POST Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Honor cerpen Rp200 ribu. Email: lampostminggu@yahoo.com


SINGGALANG (Padang) Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: a2rizal@yahoo.co.id, hariansinggalang@yahoo.co.id


HALUAN (Padang) Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: haluanminggu@gmail.com, haluanpadang@gmail.com


PADANG EKSPRES Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: yusrizal_kw@yahoo.com, cerpen_puisi@yahoo.com


WASPADA (Medan) Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: waspada@waspada.co.id, sunanlangkat@yahoo.com


ANALISA (Medan) Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: rajabatak@yahoo.com


HARIAN GLOBAL (Medan) Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: tejapurnama@yahoo.com, try_fikacu@yahoo.com


MEDAN BISNIS (Medan) Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Maksimal panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: rahim_qah@yahoo.com


RIAU POS (Pekanbaru) Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: budaya_ripos@yahoo.com


SERAMBI INDONESIA (Aceh) Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: redaksi@serambinews.com, serambi_indonesia@yahoo.com


JURNAL MEDAN Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: nasibts@yahoo.com


BANJARMASIN POST Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: hamsibpost@yahoo.co.id


PONTIANAK POS Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: redaksi@pontianakpos.co.id


HARIAN FAJAR (Makassar) Menyukai cerpen eksperimental dan konvesional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: fajar@fajar.co.id, alimdjalil@ymail.com


Majalah HORISON Menyukai cerpen konvensional dari berbagai genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: horisoncerpen@gmail.com


Majalah BASIS Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: basismajalah@yahoo.com


Majalah SAGANG Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional, cenderung semua genre sastra. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: cerpensagang@yahoo.co.id


Majalah STORY Majalah khusus cerpen. Menyukai cerpen eksperimental dan konvensional remaja. Cerpen: 13.000–14.000 characters with spaces (sekitar 8-10 hal). Cerbung: 26.000-40.000 characters with spaces (sekitar 20-30 hal). Novelette: 30.000–35.000 characters with spaces (sekitar 23-25 hal). Kissing: 4.000 characters with spaces (sekitar 3 hal). Cerpen bahasa Inggris: 6.000 characters with spaces (sekitar 4 hal). Ditulis spasi rangkap. Sertakan nama, alamat, telepon di halaman terakhir naskah. Pada email ketik: Subjek: cerpen/cerbung/kissing, dll. Kirim ke: story_magazine@yahoo.com


Majalah ANNIDA Syaratan tulisan Annida: Cerpen: 5-10 halaman,spasi 1 1/2, jenis font : Times New Roman, Ukuran Font 12 pt, Ukuran Kertas A4, tema bebas, tidak porno/ cabul, memberi pencerahan pada pembaca. Cerbung: 5-10 halaman,spasi 1 1/2, jenis font :Times New Roman, Ukuran Font 12 pt, Ukuran Kertas A4, maksimal 7 Episode. Serial: 5-10 halaman,spasi 1 1/2, jenis font :Times New Roman, Ukuran Font 12 pt, Ukuran Kertas A4, Cerita tidak bersambung (tiap episode memiliki judul tersendiri, tetapi dengan tokoh yang sama), Maksimal 7 episode. Epik: 5-10 halaman,spasi 1 1/2, jenis font :Times New Roman, Ukuran Font 12 pt, Ukuran Kertas A4, kisah kepahlawanan (heroik) dalam maupun luar negeri. Cerpen Interaktif: 2-3 halaman, 1 1/2 spasi, A4, tema bebas, cerita belum boleh selesai (bersambung, akan diteruskan oleh pembaca yang lain). Kirim Tulisan dengan format .doc atau .rtf. Sertakan: Alamat, No Hp, No Rekening (Nama Bank, Atas Nama). Tulis pada subjek: rubrik yang dituju-judul naskah. Contoh: Cerpen: Bunga-bunga Mekar. Tulisan yang belum layak muat ditayangkan di rubrik cerpen Rijek (diupdate tiap awal bulan), tulisan masuk mendapat honor Rp. 50.000/naskah, Epik dan Shortstory Rp. 100.000, sedangkan cerpen interaktif mendapat bingkisan, honor dibayarkan selambatnya sebulan setelah pemuatan. Komplain honor dan bingkisan dapat ditujukan ke email nida dengan subjek: Komplain Honor/ bingkisan. Email: majalah_annida@yahoo.com, atau bisa juga langsung upload ke website Annida Online di http://www.annida-online.com/kirim-tulisan.html (tanpa harus menjadi member)


Majalah SAYS! Khusus cerpen eksperimental dan konvensional remaja. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: redaksi@majalahsay.com


Majalah GADIS Khusus cerpen eksperimental dan konvensional remaja. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Honor Percikan (cerpen mini tiga halaman) Rp.500 ribu. Honor cerpen Rp. 850 ribu. Email: redaksi.gadis@feminagroup.com



Majalah CHIC Khusus cerpen eksperimental dan konvensional remaja perempuan. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: chic@gramedia-majalah.com, chicstory@gramedia-majalah.com


Majalah KAWANKU Khusus cerpen eksperimental dan konvensional remaja. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: fiksi-kawanku@gramedia-majalah.com, cerpenkawanku@gmail.com


Majalah SEKAR Khusus cerpen eksperimental dan konvensional remaja. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Honor cerpen Rp. 400 ribu. Email: sekar@gramedia-majalah.com


Majalah ANEKA Khusus cerpen eksperimental dan konvensional remaja. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: aneka@indosat.net.id


Majalah GIRLS Cerpen konvensional pre-teens (anak 12-15 tahunan). Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: girls@gramedia-majalah.com


Majalah HAI Cerpennya harus cowok banget! Khusus cerpen eksperimental dan konvensional remaja. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: hai-magazine@gramedia-majalah.com


Majalah KARTIKA Majalah wanita dewasa. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional khas wanita dewasa. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: majalahkartika@yahoo.com


Majalah FEMINA Majalah wanita dewasa. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional khas wanita dewasa. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: kontak@femina-online.com, kontak@femina.co.id


Tabloid NOVA Majalah wanita. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional khas wanita. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Honor cerpen Rp.400 ribu. Email: nova@gramedia-majalah.com


Majalah KARTINI Majalah wanita dewasa. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional khas wanita dewasa. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: redaksi_kartini@yahoo.com


Majalah CEMPAKA Majalah wanita dewasa. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional khas wanita dewasa. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: sontrotku@gmail.com


Majalah PARAS Majalah wanita dewasa. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional khas wanita dewasa. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: majalahparas@yahoo.com


Majalah CAHAYA NABAWIY Majalah Islam. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional ke-Islam-an. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: cahayanabawiy@gmail.com


Majalah JOE FIKSI Majalah khusus cerpen. Panjang cerpen: 10.000 - 14.000 karakter. Email: topderings@gmail.com


Majalah SERAMBI UMMAH Majalah Islam. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional ke-Islam-an. Panjang cerpen: 10.000 -14.000 karakter. Email: serambi_ummah@yahoo.co.id


Majalah SABILI Majalah Islam. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional ke-Islam-an. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: elkasabili@yahoo.co.id


ANGSODUO.NET Menyukai berbagai jenis genre cerpen eksperimental dan konvensional. Panjang cerpen: 10.000 – 14.000 karakter. Email: dua2angsa@gmail.com


ERA MUSLIM Majalah Islam. Khusus cerpen eksperimental dan konvensional ke-Islam-an. Panjang cerpen: 10.000 karakter. Email: redaksi@eramuslim.com



CATATAN: Media yang disebutkan di atas adalah media-media yang memberikan honor pada cerpen yang Anda kirimkan. SANGAT mungkin besaran honor cerpen di atas bisa berubah (karena kebijakan media, atau sebab lainnya).

Kirim Naskah ke Puspa Swara

 Kirim Naskah ke Puspa Swara
PUNYA NASKAH ANAK DAN REMAJA
DAN INGIN JADI PENULIS TERKENAL?


Kami menantang kamu menghasilkan naskah anak dan remaja yang orisinal, keren, dan unik serta wujudkan mimpimu menjadi penulis top dengan tema-tema berikut.
                           KATEGORI ANAK
Kategori Fiksi:
• Akidah Islam
• Akhlak Islam
• Petualangan
• Persahabatan
• Keluarga
• Hobi/kesenangan

Kategori Non-Fiksi:
• Akidah Islam
• Akhlak Islam
• Persahabatan
• Keluarga
• Hobi/kesenangan
• Keterampilan hidup (life skill)
• Kreativitas anak
• Pengetahuan/sains
• Referensi (kamus, ensiklopedia, buku pintar)

                                   KATEGORI REMAJA
Fiksi
• Novel bergenre romance (romance murni, romance inspirasi, dan romance komedi)
• Novel fiksi sejarah, horor, inpiratif
• Panjang naskah 90-150 halaman A4, spasi 1, Times News Roman 12

Komik
• Komik bergenre komedi/inspirasi
• Tebal minimal 160 hlm

Buku Komedi
• Naskah bergenre komedi, umumnya based on profesi, pengalaman, atau sisi lain
• Panjang naskah 70-150 halaman A4, spasi 1, Times News Roman 12

Kriteria naskah:
 1. Naskah merupakan karya orisinal, bukan terjemahan, saduran, atau jiplakan.
2.Memiliki cerita yang unik dan nggak pasaran.
4.Naskah ditulis dengan logis dan sistematis.
5.Memiliki peluang pasar (marketabilitas) yang bagus.

Prosedur Pengajuan Naskah:
1. Surat pengantar.
2. Sinopsis.
2. CV (Daftar Riwayat Hidup) dengan alamat lengkap nomor telepon yang dapat dihubungi.
3. Keseluruhan isi naskah.
4. Naskah boleh dikirim secara softcopy (via e-mail) ataupun hardcopy (pos) ke:
E-mail: nur.ihsan@puspa-swara.com
Pos : Redaksi Puspa Swara
a.n. Nur Ihsan
Perumahan Jati Jajar Blok D12 No.1 Cimanggis Jawa Barat 16452

Rabu, 06 Maret 2013

Proofreader: Cermat, Teliti, dan Peka pada Kata

Saya mengenal istilah proofreader bertahun-tahun setelah saya bekerja menjadi tim editing sebuah penerbitan. Ironis? Mungkin. Karena tempat saya bekerja memang tak membagi ranah kerja editor. Jadi, satu editor biasa menangani naskah dari awal sampai akhir. Kesalahan cetak? Jangan ditanya, meski minimal tiga kali melakukan pengulangan: naskah awal (di komputer), naskah proof, naskah print kalkir, tetapi kesalahan ejaan tak bisa dihindari. Slip of eyes, begitu saya sering sebutkan.
Untuk mengatasi permasalahan ini, pernah dibuat sistem edit silang. Jadi, ada mata kedua yang ikut meneliti. Tapi ujung-ujungnya, proses editing jadi molor. Belum lagi gaya antareditor berbeda dalam memilih kata.Semua ini tergantung pada sistem kerja dalam penerbitan tersebut juga. Karena untuk penerbit skala nasional, ada pembagian kerja editor yang lebih detail.

Sebenarnya, siapa dan apa, sih, makhluk bernama PROOFREADER itu? Silakan baca tulisan Anwar Holid yang saya copas dari Goodreads ini.  
 


Proofreader: Cermat, Teliti, dan Peka pada Kata
Oleh Anwar Holid


sumber gambar: http://www.tswriting.com/issues/volume6issue5.htm
 Di dalam organisasi penerbit, secara struktural proofreader (penyunting teks/nas; atau copy editor) kerap berada di bawah editor kepala atau pengelola; namun bekerja di bawah editor pelaksana. Proofreader bertanggung jawab terhadap naskah buku yang digarapnya dari masing-masing editor bersangkutan. Oleh karena itu sudah niscaya proofreader terus-menerus bekerja sama dengan beragam editor untuk menjaga kualitas buku.

Proofreaderlah yang menjaga keseragaman teks (nas) dalam sebuah naskah/buku. Dia pula yang menerapkan gaya selingkung penerbit:
-          penerapan ejaan,
-          istilah,
-          detail kelengkapan buku: isi buku (daftar isi), indeks, lampiran, dan memeriksa dummy (cetak coba).

Karena proofreading merupakan tahap akhir proses penyuntingan, diharapkan semua masalah maupun kesalahan penyuntingan sudah ditemukan dan diperbaiki ketika ada di tangan proofreader.
Seusai diperiksa, mestinya naskah sudah sempurna, baik dari segi isi dan tampilan. Dalam hal ini, proofreader jangan diminta mengerjakan tugas editor, melampaui pekerjaan utamanya, atau jadi editor gadungan. Ini semata-mata untuk efisiensi.

Beberapa penerbit bila mengout source orang sebagai proofreader ada yang berpesan begini: "Sekalian kalau ada kalimat yang inefektif, bertele-tele, atau tidak enak dibaca, tolong diperbaiki ya."
Wah, itu bukan tugas proofreader! Itu tugas editor. Itu membebani tugas proofreader namanya.
Kenapa?
Karena tugas utama editor ialah justru mengefektifkan kalimat sesuai maksud penulis. Tugas proofreader sudah harus bebas dari tahap penyuntingan, misal dalam hal akurasi data dan ketepatan istilah. Kalau seorang proofreader menemukan hal seperti itu, tentu harus menjadi kredit baginya.
Kasarnya, bukan tugas proofreader untuk memberi tahu atau mengecek ada terlalu banyak kata 'yang' dalam satu kalimat hingga membuat kalimat itu menjengkelkan.  

sumber gbr: http://www.bold-type.com.au/print-publishing-tips/proofreading/
Proofreader mungkin tidak perlu tahu persis apa beda Columbia dan Kolombia, apa itu kolumnis atau komunis, asal dia bisa memastikan bahwa ejaan keduanya benar dan penempatannya benar. Asal dia persis tahu bahwa 'yang' di situ ditulis y-a-n-g, bukan y-a-n-c atau y-a-n-h.

Kecermatan, ketelitian, kehati-hatian, kepekaan pada ejaan dan kata, serta konsentrasi sudah semestinya jadi dasar kinerja proofreader, sebab dia menjadi "penyaring kedua" setelah nas diolah sedemikian rupa oleh penyunting sampai layak dan siap terbit. Sederhananya, proofreading merupakan proses membetulkan ceceran pekerjaan editor yang sengaja dilewatkan demi efektivitas produksi. Bisa juga proofreader menjadi orang yang berempati kepada (calon) pembaca. Ia membaca teks (nas), menempatkan diri sebagai pembaca yang sangat mungkin kecewa terhadap buku (produk) karena ada kesalahan sekecil apa pun di dalamnya. Akibatnya seorang proofreader tak akan membiarkan satu pun kesalahan muncul pada nas garapannya.

Tanggung jawab proofreader antara lain meliputi:

1. Akurasi penulisan (ejaan) kata dan tanda baca.

2. Pemenggalan kata.

3. Ketaatasasan istilah dan gaya yang digunakan dalam naskah.

4. Konsistensi penyajian bentuk naskah:

       a. Setting.

       b. Penggunaan font (jenis huruf).

       c. Judul dan subjudul.

      d. Catatan kaki.

      e. Nomor dan penempatan halaman (sesuai tidak dengan di isi buku).

5. Kata atau istilah yang perlu ditulis italic.

6. Akurasi penempatan dan urutan catatan kaki.

7. Akurasi catchword (belah kiri: biasanya berupa nama penulis atau judul buku; belah kanan: bagian/bab buku).

8. Membuat isi buku.

9. Membuat indeks (indeks subjek, indeks umum, nama).

10. Ketepatan transliterasi maupun transkripsi.


Langkah kerja proofreading:


1. Memeriksa kelengkapan materi naskah.

2. Mengeja dan memeriksa secara tepat unsur paling vital dalam naskah:

      a. Judul dan subjudul.

      b. Catchword dan halaman.

      c. Pemenggalan kata.

      d. Kata atau istilah yang perlu ditulis italic.

     e. Akurasi nama orang (contoh, betapa susah mengeja nama ini: Mihaly Csikszentmihalyi), geografi, organisasi, kata asing (contoh: déjà vu, jangan dé jàvu).

     f. Ejaan dalam isi buku dan tanda baca kalimat.

3. Memeriksa dummy (cetak coba).

----Anwar Holid bekerja sebagai penulis & editor----
KONTAK: wartax@yahoo.com  http://halamanganjil.blogspot.com
Copyright © 2009 oleh Anwar Holid

Tambahan dari saya
Saat mengedit saya biasa menggunakan asas praduga tak bersalah pada naskah. Misalnya, kata hanter yang pernah saya temui pada naskah yang saya edit. Hampir saja saya ganti menjadi hunter, karena saya menganggap penulis salah ketik. Tapi, saya coba menahan diri dan membaca hingga halaman-halaman berikutnya. Terjawab sudah bahwa yang dimaksud memang hanter, bukan hunter.
Untunglah penulis memberitahu melalui dialog tokohnya, sebab saya memang tak menemukan kata hanter di KBBI andalan saya *senyum simpul*

sumber: http://www.howtodoanystuff.com/careers/how-to-find-copy-editing-services-online/

Selasa, 31 Mei 2011

Love Your Editor

copas dari Bambang Trim pada 29 Mei 2011 jam 8:37

Apakah ada pengarang-pengarang berbakat yang karyanya mubazir karena mereka tidak berhasil menemukan penerbit? David Rosenthal, seorang editor senior dari Little Random (imprint Random House) menjawab: "Mungkin ada. Tapi, saya rasa jumlahnya kecil sekali. Sebab, menurut hemat saya, kalau penulis itu memang berbakat, akan ada saja jalan baginya untuk dikenal dan diketahui oleh editor atau penerbit."

Itu petikan wawancara dengan David Rosenthal yang diterjemahkan oleh senior saya dalam dunia editing, mendiang Mula Harahap, dan termuat dalam bukunya Jalan Editor Seorang Mula Harahap. Petikan pertanyaan dan jawaban terakhir ini sungguh menarik bagi saya setelah tuntas menyiapkan presentasi kertas kerja untuk Seminar Editor Malaysia 2011 pada 30 Mei 2011 di Selangor, Malaysia.

David menyiratkan bahwa di dalam dunia penerbit sebenarnya atau seharusnya memang terdapat para editor akuisisi yang andal dengan kemampuan melacak para penulis potensial--baik dalam kategori senior maupun junior. Apa yang paling penting memang 'manusianya' itu sendiri, pengarang atau penulis sebelum turun kepada karya-karyanya.

Dalam sebuah training bertajuk Cara Taktis Menulis Buku yang diselenggarakan beberapa bulan silam di Jakarta, para peserta dan penyelenggara kemudian menyepakati penerbitan antologi proses kreatif, termasuk harapan para peserta sebagai penulis buku. Terus terang, saya dapat menemukan spirit dan bakat-bakat baru dalam dunia penulisan buku yang kelak akan muncul sebagai penulis atau pengarang buku yang berkarakter. Kuncinya satu, fokus, konsisten, dan berkomitmen dalam dunia penulisan itu sendiri, terutama memantapkan diri menguasai penulisan salah satu bidang; tidak dulu menulis segala macam naskah.

Tantangan ke depan yang benar-benar menantang bagi dunia penerbitan buku di Indonesia adalah akuisisi naskah, yaitu menemukan talent-talent baru dalam kepenulisan. Karena itu, para editor akuisisi adalah orang-orang yang harus benar-benar seperti detektif atau intelijen terlatih untuk membaca tren dan membaca manusia (penulis dan pengarang) Indonesia.

Terus terang bagi saya melejitkan penulis yang baru kali pertama menulis dan menerbitkan buku, lebih mengasyikkan daripada memburu para penulis-penulis yang sudah jadi pesohor. Kalaupun saya perlu bertemu seorang penulis senior, paling saya senangi adalah mengajak mereka berdiskusi tentang sebuah proyek penulisan baru. Itulah seninya mengakuisisi naskah. Meskipun makin hari makin banyak orang yang hendak menulis buku, di Indonesia banyak pula kasus bahwa yang terbit adalah naskah-naskah miskin gagasan dan tidak punya daya pikat sama sekali. Hanya 'koar-koar' penulisnya sendiri yang menyatakan buku itu adalah buku luar biasa dan layak baca--semangat self-publishing.

Penulis bertalenta persoalannya ternyata tidak bertemu dengan penerbit atau editor akuisisi yang tepat--tidak berjodoh dalam sebuah kerja sama yang didambakan. Ada naskah yang bagus, di tangan penerbit yang tidak mumpuni benar-benar akan layu sebelum berkembang. Di sisi lain, ada naskah yang tidak bagus, di tangan penerbit berkaliber internasional sekalipun tidak akan mampu berbunyi. Kata para senior, ide adalah panglima. Bagaimanapun memang harus dicari naskah-naskah hasil dari produksi ide cemerlang para penulis bertalenta.

Kebutuhan penerbitan masa mendatang seperti yang pernah saya dengungkan adalah terciptanya 'pasukan' korps editor dalam dua gugus tugas yang andal: 1) ACQUISITION/ACQUIRING; 2) DEVELOPMENT. Keduanya, menjaga aspek sukses penerbitan, yaitu Content, Context, Creativity, dan Community. Para editor ke depan memiliki dua opsi keterampilan: mau mengembangkan kemampuan dalam memburu naskah atau mau mengembangkan kemampuan dalam pengemasan naskah. Dua kekuatan ini sama dibutuhkan untuk melejitkan penerbit menghasilkan portofolio judul yang andal sekaligus sukses di pasar.

Karena itu, jelas dunia penerbitan Indonesia tidak hanya memerlukan penulis/pengarang bertalenta, tetapi juga para editor bertalenta. Ada di mana mereka? Generasi editor yang hidup pada zaman social media kini sedang tumbuh, tetapi jumlah mereka mungkin kecil dibandingkan pertumbuhan jumlah penulis/pengarang sendiri. Namun, tidak mengapa asalkan mereka memang kelak dapat dibina menjadi sebuah 'korps pasukan khusus' yang menguasai banyak medan penerbitan. Mereka harus mampu dicemplungkan dalam lautan gagasan, melayang di atas cakrawala pemikiran, merayap di daratan kreativitas, atau diterjunkan dalam belantara penerbitan internasional. Memang tidak mudah mencari talent-talent seperti ini. Indikator utama dapat dilihat adalah menguasai persoalan pustaka (buku), aktif di social media, dan punya keinginan kuat belajar serta berlatih. Kalau mau menyebutkan nama, talent seperti ini pernah saya temukan pada diri seorang Arul Khan dan Tasaro di Salamadani, Muhibbin di Cicero Publishing (sayang kemudian memilih menjadi PNS di Depag), ada Inas mantan sekretaris saya di MQ Publishing yang kemudian menjadi editor, Di Dixigraf ada tiga talent Yulia, Asmat, dan Mudjib, di TS saya sedang membina beberapa orang kunci.

Tentu akan muncul generasi editor baru yang lebih mampu lagi bersicepat dengan pemelajaran dan adaptasi di dalam dunia penerbitan. Di beberapa penerbit saya mengenal beberapa orang yang memiliki kemampuan andal editorial saat ini. Ada yang andal dalam akuisisi dan ada yang andal dalam development, bahkan ada yang kedua-duanya. Mereka inilah yang kelak diharapkan menjadi semacam David Roshental dari Random ataupun Barry Cuningham, si penemu talent JK Rowling.

***

Dunia editor memang kadang seperti misteri. Tidak banyak orang yang tahu betul seluk-beluk pekerjaannya, kecuali menganggap hanya memperbaiki atau mengoreksi kesalahan bahasa dalam sebuah karya. Padahal, di luar itu banyak sekali harapan kesuksesan penerbitan disampirkan ke pundak seorang editor. Bahkan, fenomena merangkap berbagai tugas penerbitan masih terjadi pada banyak penerbit sehingga membuat editor kehabisan energi untuk berkarya.

Pesan tulisan ini sederhana saja. Para penulis dapat mencintai editornya, terutama para penerbit dapat mencintai dan menjaga editornya untuk eksis berkarya dan menghasilkan buku yang benar-benar bermutu. Sebaliknya, para editor juga hendaknya mampu menciptakan atmosfer penerbitan buku penuh kehangatan, kesalingmengertian, dan juga kreativitas tanpa batas.

Persatuan Editor Malaysia besok mungkin hendak menakar profesionalitas editor di Indonesia, saya akan menjelaskan apa adanya. Boleh jadi mereka pun sedang belajar dari kita meski di sana sudah ada pendidikan formal untuk tenaga editor setaraf S3. Jalan berbagi bagi saya justru jalan untuk menambah pundi-pundi pengalaman dan wawasan. Saya akan mendengarkan para profesor dan penggiat perbukuan senior di Malaysia memaparkan kertas kerja. Saya tetap penasaran Malaysia sudah memiliki buku gaya selingkung resmi negara (house style book) bernama Gaya Dewan dan sampai kini kita tidak punya.

Love your editor.... Semoga editor Indonesia tetap eksis dan berjaya di negeri sendiri.

Bambang Trim

#komporis-buku-indonesia

Jumat, 28 Januari 2011

EDITOR YANG BAIK

Oleh Ali Muakhir

Sejak saya memberikan tips tentang yang membuat sebel editor, beberapa Winner saya protes. Sepertinya, saya terlalu memihak editor, padahal, hak-hak penulis juga harus diperhatikan dung, biar seimbang. Saya tersenyum karena tips yang saya berikan itu sesungguhnya justru memihak penulis supaya tidak disebeli editor. Tentu saja, setiap orang punya pola pikir dan pendapat yang berbeda kan? Termasuk editor yang baik menurut saya. Sekali lagi menurut saya, bukan menurut siapa-siapa.

Kenapa hanya menurut Mas Ali?
Lha iya, karena saya yang berpendatak kan. Lagi pula, belum tentu criteria editor yang baik menurut saya itu diamini oleh beribu-ribu editor kan?

Baiklah, jadi apa saja untuk menjadi editor yang baik?
Pertama harus cinta buku. Cinta lho, ya, bukan sekadar sayang atau suka karena kalau cinta apapun kondisinya tetap ada rasanya. Kedua tahu tentang buku, minimal tahu mana buku yang baik dan tidak, mana buku yang layak diberikan apresiasi dan mana yang tidak, mana buku yang dibutuhkan oleh pasar dan mana yang tidak. Jenis buku, segmen buku, dan pasar buku.

Harus tahu pasar buku segala Mas?
Iya dung, nanti kalau tidak tahu pasar, bagaimana nanti memilih buku yang akan diterbitkan yang sesuai dengan kebutuhan pasar? Kebutuhan pasar itu bisa mengikuti yang sedang diminati pasar, bisa juga menciptakan minat kepada pasar lho.

Ok, yang ketiga?
Ketiga harus tahu visi misi penerbit yang bukunya kita edit, visi misi tentu saja tidak harus sangat detil, cukup yang terihat oleh mata saja. Misalnya, penerbit buku umum, buku agama, buku anak. Atau kalau mau agak detil, tahu segmentasi pembacanya, karakteristik cover buku yang diterbitkannya, dan hal lain yang berhubunga dengan penerbit.

Keempat?
Keempat harus punya feel, mana naskah yang kira-kira akan laku di pasar, mana yang tidak. Ini memang perlu jam terbang, tetapi yakinlah, ini pasti bisa dilatih. Harus punya feel mana kira-kira penulis yang punya potensi besar untuk berkembang, mana yang hanya coba-coba jadi penulis saja. Walaupun coba-coba jadi penulis juga tidak dilarang.

Masih ada yang lain?
Masih. Kelima harus mampu membina hubungan baik dengan siapapun yang berkaitan dengan penerbitan. Hubungan baik dengan penerbit, degan penulis, dengan illustrator, dengan desainer, dengan marketing, dengan media, dengan pasar.

Caranya, Mas? Kan editor kerjaannya berjubel? Hehehe

Lha, hari gini masih tanya cara membina hubungan? Duh, bumbata dung Bu. Buka mata, buka telinga. Sekarang kita punya anggota badan baru kan, namanya hp dan internet? Pakailah anggota badan kita yang baru itu. Nggak susah kan? Paling nambah pulsa aja. Eh, pulsa juga dah dijatahin sama kantor kok, jadi tetap nggak masalah kan?

Apa itu berarti Editor harus menjawab setiap sms dari penulis dan lain-lain?
Harus, selagi tidak mengganggu aktivitas. Misalnya, ada penulis yang tanya naskahnya, mbok ya dijawab jangan dibiarkan saja dengan alasan tidak ada pulsa misalnya. Kalau tidak ada pulsa kan bisa pakai fasilitas kantor. Telepon beberapa menit untuk menjawab sms tidak menghabiskan sepiring nasi kan? Lagipula, yang mencet nomer telepon juga sekretaris, tinggal bilang, tolong hubungi penulis ini ya. Pasti dengan senang hati, sekretaris atau orang FO akan menyambungkannya.

Iya juga, ya.
Iya, itu contoh kecil aja. Atau kalau tidak bisa sms atau telepon, ada kan email? Minta tolong aja sang sekretaris kalau sibuk banget untuk bales sms atau email, atau telepon yang diterima editor. saya yakin banget, kalau editor yang baik pasti mengusahakan untuk terus berhubungan dengan para outsorce-nya.

Apa lagi Mas?
Keenam, secara teknis harus mau terus meningkatkan skill. Banyak lho, sekarang editor yang awalnya kejeblos di dunia penerbitan, makanya, terkadang dipaksakan untuk menjadi editor. Oleh karena itu, baiknya terus meningkatkan skill. Banyak caranya kok, banyak baca buku, baca Koran, baca majalah. Bawa pulpen kemana-mana karena terkadang editor yang sudah mendarah daging akan otomatis mengedit bahasa yang kurang enak ketika kita baca media.

Caranya gimana Mas?
Sebisa mungkin ketika mengetik apapun, sekecil apapun tidak ada kesalahan sehurufpun apalagi kesalahan kalimat. Terus kalau bisa, ketika SMS jangan juga ada kesalahan atau pemotongan-pemotong an kata yang tidak jelas. Ini jadi ajang asah juga, lho, jangan diremehkan.

Apalagi Mas?
Ketujuh harus mau tahu berapa beaya yang dikeluarkan untuk menerbitkan buku. Dari mulai beaya naskah, beaya ilustrasi, beaya desain, beaya pracetak, beaya cetak, sehingga nanti bukunya tidak kemahalan. Iya, kalau editor mau ya.

Kedelapan?
Udah cukup, tujuh aja, ntar kalau panjang-panjang bukan tips dung namanya.

Makasih Mas.
Sama-sama. Mudah-mudahan bermanfaat. Maaf lho, jika ada editor yang mau protes, terutama pada tips kelima.

Wassalam
Ali Muakhir
Book Kreator